Laman

KISER Dermayon

WACANA & NURANI WONG INDRAMAYU

Jumat, 15 Juli 2011

Tarling: Kreasi, Ekspresi, dan Edukasi



Oleh SUPALI KASIM

(1)
Ketika membicarakan tarling, ada baiknya membicarakan beberapa hal dari berbagai segi. Tarling memiliki dimensi-dimensi, seperti asal-usul, tokoh-tokoh, fungsi, bahasa, musik, dan drama.

1.       Asal-usul
Membicarakan asal-usul, bisa jadi akan menyangkut asal-usul tarling sejak pertama kali “diketemukan”. Sejak adanya inspirasi, perkembangan, dan popularitas, tarling memiliki beberapa fase , yakni:
(a)    Inspirasi dari gamelan, (b) Menggunakan alat musik gitar dan suling, (c) Era kesenian panggung, (d) Mulai memasuki dunia rekaman, (e) Penyiaran melalui media radio, (f) Tayangan televisi, (g) Media compact disk.

2.       Tokoh-tokoh
Pada setiap kurun waktu, muncul tokoh-tokoh seniman tarling. Tokoh-tokoh ini bisa dikategorikan dalam bebarapa fase dekade, seperti:
a.       Tokoh perintis: Sugra, Jayana, Raden Sulam, Uci Sanusi.
b.      Tokoh Seni Pertunjukan Tarling Klasik: Jayana, Uci Sanusi, Abdul Ajib, Sunarto Marta Atmaja, Carinih, Asmadi, Dadang Darniyah, Dariyah, Aam Kamsiyah, Aam Kaminah, Uun Kurniasih, Tarilah, Tirah Kastirah, Tono, Toyib, dll.
c.       Tokoh Lagu-lagu ‘kiser gancang’: Abdul Ajib, Sunarto Marta Atmaja, Dariyah, dll.
d.      Tokoh Pemeran Pendukung: Dulatif, Bujal, Gemblung, Sawud, Kosim, Tiplok, Kinclung, Wa Cali, dll.
e.      Tokoh Tarling-dangdut: Udin Zhen, Maman Suparman, Sadi Maulana, Titin Maryati, Nano Sumarno, Yoyo Suwaryo, Nengsih, Pepen Effendi, Ipang Supendi, Duniawati, dll.
f.        Tokoh Organ Tunggal: Aas Rolani, Nunung Alfi, Iip Bakir, Deddy Yohana, Dewi Kirana, Dede Setiawati, Cucun Novia, Sonia Sonjaya, Wati S., Rien Safitri, Atin Anatin, dll.
g.       Tokoh Pencipta Lagu: Herman Top, Eddy Bentar, Agus Salim, E. Thorikin, Pepen Effendi, Acing C. Pribadi, Robandi A.A., Wenky Roland, John Iskandar, Untung Gautara, Mamat S., Usin Indra, Po’in, dll.

3.       Fungsi
Keberadaan seni tarling tidak lepas dari fungsi yang mengiringinya. Secara umum, sebuah kesenian berkorelasi dengan sisi pendidikan, penerangan, dan hiburan. Secara spesifik, tarling memiliki fungsi sebagai media:
a.       Kreasi, yaitu daya cipta sejak munculnya kesenian tarling, karya musik, karya lagu-lagu, dan karya drama.
b.      Ekspresi, yang menyangkut kegelisahan strata sosial, percintaan, maupun kemasyarakatan lainnya.
c.       Edukasi, yang bisa jadi memiliki nilai-nilai pendidikan kemasayarakatan melalui lagu dan drama.

4.       Bahasa dan Sastra
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa pesisiran/bahasa Cerbon-Dermayu (Perda Jabar No. 5/2003 menyebut sebagai Bahasa Cirebon). Penggunaan bahasa seperti ini seperti menunjukkan juga luasnya wilayah penyebaran tarling, dari mulai Kab. Cirebon, Kota Cirebon, Kab. Indramayu, sebagian wilayah utara Kab. Majalengka, sebagian wilayah utara Kab. Subang, dan sebagian wilayah utara Kab. Karawang. Bahasa yang digunakan memiliki dua strata, yakni:
(a) Basa Ngoko atau Basa Padinan, (b) Basa Krama atau Bebasan.
Adapun sastra yang muncul melalui syair lagu, antara lain berupa:
(a)    Purwakanti, (b) Wangsalan, (c) Parikan, (d) Pribasa, (e) Gugon Tuwon, (f) Jawokan.

5.       Musik
Kreasi dalam bermusik menunjukkan geregap langkah yang cenderung menuju dinamika perubahan. Perubahan ini tampaknya mengikuti trend yang berlangsung dalam dinamika sosial masyarakat. Fase-fasenya adalah sebagai kerikut:
a.       Meringkas bunyi gamelan ke gitar dan suling.
b.      Unsur perkusi mulai masuk kotak sabun dan baskom, melengkapi bunyi gitar dan suling.
c.       “Orkestra tradisional” melengkapi gitar-suling, berupa gitar pengiring, gong, kendang, tutukan, dan kecrek. Peran ini banyak disumbang Uci Sanusi, karena Uci sebelumnya pimpinan orkes keroncong. Ia melakukan inovasi tarling sebagai sebuah “orkestra”.
d.      Penambahan unsur musik dangdut, dengan ditambahi gendang dangdut, drumb, terompet, organ, dan markis.
e.      “Organ tunggal”,  tetapi terkadang ditambahi gitar, kendang, dan suling.
f.        Kembali dengan “orkestra tradisional” ditambahi alat musik modern.

6.       Drama
Selain musik dan lagu, unsur drama merupakan unsur utama tarling. Sunarto Marta Atmadja berperan memasukkan unsur drama pada dekade 1950-an pada pertunjukan tarling. Ia terpengaruh pertunjukan reog “Gawiya”, yang cukup bagus dengan dramanya. Kelompok lainnya kemudian mengikuti.
Dalam drama, setidak-tidaknya ada dua jenis, yakni:
a.       Drama Utama, yang dimainkan secara penuh (istilahnya semalam-suntuk). Dulu, bahkan dimainkan antara pukul 10.00 – 04.00. Drama berisikan prolog, monolog, dialog, dan dialog, baik dengan kata-kata langsung maupun melalui lagu. Tema cerita berkisar tentang perselisihan dalam keluarga, seperti rebut warisan, percintaan dua insan, kasih tak sampai, kawin paksa, jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin, dll. Akhir dari cerita bisa “happy ending”, bisa juga “sad ending”. Drama berjudul “Saida-Saēni”, “Baridin-Ratminah”, “Gandrung Kapilayu” misalnya, cukup melegenda.
b.      Drama Humor, yang biasanya dimainkan sebelum drama utama dengan durasi sekitar 60 menit. Tema cerita tidak diutamakan, sebab lebih mengedepankan humor atau lawakan.

(2)
Meski seni tarling banyak memiliki dimensi yang menarik untuk diperbincangkan, tulisan ini berupaya untuk mengungkap seni tarling dari sisi fungsi tarling sebagai media kreasi, ekspresi, dan edukasi.

Tarling sebagai Kreasi
Realitas tarling sejak dulu hingga kini menunjukkan seni yang terus mengalami dinamika kreasi. Awalnya seperti migrasi bunyi dari bunyi-bunyian gamelan kemudian diringkas ke gitar-suling. Kreasi itu terus berlanjut dalam musik, lagu, dan drama.
Sebagai sebuah kreasi, tarling memiliki kekhasan tersendiri, yakni menggunakan alat musik gitar (dari Eropa) tetapi nada-nadanya adalah khas gamelan Cerbon-Dermayu. Kreasi berikutnya adalah mampu mengiringi lagu-lagu klasik dan drama, layaknya sebuah opera. Di situ ada dialog, ada lagu, tetapi juga seringkali mengekspresikan monolog dengan lagu ataupun dialog antarpemain dengan lagu.
Di sisi lain, tarling merupakan kesenian yang sangat terbuka dan egaliter. Mungkin hal ini dikarenakan kemunculan tarling bukan berasal dari tengah-tengah keraton. Biasanya kesenian dari keraton memiliki pakem dan tata tertib tersendiri, yang tabu untuk dimodifikasi ataupun diubah. Tarling lahir dari tengah-tengah rakyat jelata, yang terus mengalami perubahan demi perubahan. Tidak aneh, jika dalam beberapa dekade terlihat perubahan yang dinamis. Dimulai dari:
1.       Lagu-lagu yang lirih perlahan (klasik).
Bisa diketemukan pada kerangka lagu klasik Bendrong, Cerbon Pegot, Dermayonan, Kiser, Jonggrang, dsb.
2. Lagu-lagu agak dinamis (“kiser gancang”).
Contohnya pada lagu-lagu Abdul Adjib (Warung Pojok, Temon, Sumpah Suci, Keduhung, Gugur Cita-cita, Supir Indēn, Tukang Cukur dsb.), lagu-lagu Sunarto Marta Atmadja (Saumpama-Saumpami, Berag Tua, Melati Segagang, dsb.), dan beberapa lagu lainnya.
3. Lagu-lagu dinamis (tarling dangdut).
Contohnya pada lagu-lagu Dariyah (Cibulan, Gadis Indramayu, Ēnakan, dsb.), Udin Zhaen (Kawin Paksa, Kebayang, Nambang Dawa, dsb.), Yoyo Suwaryo (Kapegot Tresna, Dewa, Bapuk, Lho Yang, Aja Ditangisi, Duda Kepaksa, dsb.), Sadi Maulana (Pemuda Idaman, dsb.), Erni S. (Lanang Pujaan, dsb.), dan beberapa lagu lainnya.
4.       Lagu-lagu yang lepas dari pakem nada dasar gamelan (rock dangdut).
Terlihat pada beberapa lagu, seperti yang dinyanyikan Dede Setiawati (Kucing Garong), Aas Rolani (Mabok Baē),  dan lagu lainnya seperti Sepanggung Loroan, Tanggul Kali Blanakan, Pesisir Balongan, Ēdan Anyaran, Sewulan Maning, dan ratusan lagu lainnya.
Latar kultural, sosiologis, dan psikologis masyarakat agraris hingga ke semi-perkotaan banyak mewarnai tema-tema lagu. Secara umum, tema-tema lagu berkisar pada:
1.       Tema percintaan.
Lihat pada lagu Saumpama-saumpami (Sunarto), Angin Sorē (Acing C. Pribadi),  Bareng-bareng Janji (Ipang Supendi).
2.       Tema kerinduan.
Lihat pada lagu Sewulan Maning (Herman Top), Saumpama-saumpami (Sunarto),
Manuk Kepudang (Pepen Effendi), Pemuda Idaman (Sadi M.), Lanang Sejati (Herman Top), dll.
3.       Tema kegundahan cinta.
Lihat pada lagu Keduhung (Abdul Adjib), Kawin Paksa (Udin Zhen), Tētēs Banyu Mata (Agus Salim/Eddy Bentar), Kapegot Tresna (Yoyo Suwaryo), dll.
4.       Tema sosial.
Lihat pada lagu Gugur Cita-cita (Abdul Adjib), Mabok Baē (E. Thorikin), Pihak Ketiga (Yoyo Suwaryo), Bandara Soekarno-Hatta (Eddy Bentar), Duda Kepaksa (Iip Bakir), dll.
5.       Tema nasehat
Lihat pada lagu Gugur Cita-cita, Penyakit Zaman, dan Panca Usaha Tani (Abdul Adjib), Bērag Tua (Sunarto M.), Ēnakan dan Sepasang Manuk Dara (Dariyah), Aja Ditangisi (Yoyo Suwaryo), Kucing Garong, Eman-eman Temen, dll.
6.       Tema deskripsi pekerjaan atau sesuatu.
Lihat pada lagu Supir Inden, Tukang Cukur, Warung Pojok, Sendal Barepan (Abdul Adjib), Sega Jamblang (Pepen Effendi).
7.       Tema guyonan atau mencari sensasi.
Lihat pada lagu Barang Bunder Gatel, Bapuk, Dēwa, Rangda Angetan, Pēngēn sing Gedē, Toldē, Njaluk Tengahē, Gelis Metuē, Ēnak ning Duwur, Aja Dicopot, Ēdan Anyaran, dll.

 
Kreasi tarling selama puluhan tahun mampu berada dalam jajaran kesenian tradisional lainnya di wilayah Cirebon-Indramayu. Secara tradisional, tarling hidup dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Eksistensi tarling banyak dihidupi oleh hajatan masyarakat maupun acara adat desa.
Tarling sebagai Ekspresi
Kondisi psikologis, sosiologis, dan kultural masyarakat pantai utara Cerbon-Dermayu merupakan kekayaan tema untuk diekspresikan dalam lagu maupun drama. Ekspresi dalam lagu maupun drama seringkali menjadi katup “pemberontakan” wong cilik, tetapi tidak secara vulgar. Sebagai wong desa, mereka hanya bisa menangis, merintih, atau membatin. Ekspresi ini banyak diungkap karena adanya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin (majikan dan buruh; juragan dan bidak), cinta tak sampai, hingga ekspresi melalui cara-cara tradisional. Misalnya berupa kemat jaran guyang.
Perubahan ekspresi tampaknya bersinergi dengan perubahan kultur masyarakat dari masyarakat agraris ke masyakarat semi-industri semi-perkotaan, ataupun semi-terpelajar. Secara psikolgis, kultur individualis, materialis dan hedonis mulai menghinggapi. Kultur ini juga berkorelasi dengan hukum pasar. Si pembeli marasa menjadi raja untuk membeli sesuatu atau tidak sama sekali. Tarling akhirnya mengikuti hukum pasar tadi, dengan mengetengahkan trend sesuai selera masyarakat.
Lagu-lagu dan drama yang cenderung instan, “asal rame”, dan miskin nilai menunjukkan adanya selera masyarakat yang juga tengah dilanda kultur instan dan hedonis. Meski demikian, sebagai sebuah ekspresi, tarling menunjukkan diri sebagai media ungkap yang efektif dalam menyalurkan aspirasi persoalan sosial dan kultural dalam kehidupan masyarakat.

Tarling sebagai Edukasi
Sisi edukasi agak sulit untuk diterapkan dalam kurikulum sekolah. Hal ini berbeda dengan kehidupan di masyarakat yang sedikit atau banyak, selama ini bisa dipengaruhi seni tarling melalui drama atupun lagu. Masyarakat bukan hanya memperoleh hiburan, akan tetapi juga ada nuansa pendidikan dan penerangan dari apresiasi terhadap lagu maupun hikmah yang terselip dari drama.
Meski agak sulit, ada baiknya dicoba untuk menemukan unsur edukasi untuk dikembangkan dalam mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK) maupun dalam Pengembangan Diri (PD). Nilai-nilai dari seni tarling yang bisa dikembangkan, antara lain:
1.       Unsur Musik
Musik dalam tarling bisa menjadi materi matpel SBK atau kegiatan PD, yakni berupa:
(a)    Notasi musik daerah, (b) Permainan gitar (nada klasik daerah), (c) Permainan gitar (nada modern daerah), (d) Permainan suling (nada klasik daerah), (e) Permainan suling (nada modern daerah), (f) Permainan organ (nada klasik daerah), (g) Permainan organ (nada modern daerah).
2.       Unsur Drama            
Selama ini tema drama tarling lebih mengedepankan realitas dalam masyarakat. Agar sesuai dengan realitas pesikologis anak/siswa, tema drama bisa disesuaikan. Drama dalam tarling bisa menjadi modal dasar teater yang berkarakter dan bernuansa daerah yang dimainkan anak-anak. Karakter teater berkarakter dan bernuansa tarling, antara lain berupa:
a.       Skenario drama bisa bertema cerita berbagai hal, tetapi sentuhan estetikanya adalah estetika tarling.
b.      Bahasa yang digunakan bisa Bahasa Indonesia, tetapi bisa Bahasa Indonesia bergaya Cerbon-Dermayu (bukan dialek Betawi). Bisa juga Bahasa Cirebon secara keseluruhan.
c.       Sentuhan sastra dalam drama (dialog serius atau lawakan), seperti berupa purwakanti, wangsalan, parikan, pribasa, atau jawokan yang cukup indah atau menggelitik.
d.      Mengetahkan konsep drama tradisional, seperti tarling. Salah satu cirinya adalah melibatkan penonton sebagai bagian dari teater. Penonton bisa bersuara, menyela, berdialog dengan pemain, dsb.
e.      Penggarapan musik drama yang bertitik tolak pada musik tarling.
3.       Unsur Syair Lagu
Syair lagu tarling berupa bahasa dan sastra daerah, merupakan hal yang bisa menjadi materi pembelajaran. Dalam lagu terkandung adanya beberapa unsur, yakni:
(a) Paramasastra (tata bahasa); (b) Kawruh basa (pengetahuan berbahasa); (c) Undak-usuk basa (tingkatan berbahasa); (d) Kasusastran (kesusastraan)
Mentransfer seni tarling ke dalam mata pelajaran SBK dan kegiatan PD haruslah “pintar-pintar”. Jika mentransfer secara mentah-mentah, tidak sedikit lagu-lagu ataupun drama yang secara psikolgis dan sosiologis tidak sesuai dengan tingkat perkembangan usia dan kematangan siswa (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK). Oleh karenanya, guru harus memperhatikan faktor ini sebagai bagian dari pendidikan dan pengajaran. 
Untuk menunjang nilai-nilai pendidikan, bisa dilakukan proses adaptasi syair lagu, dari lagu yang sudah ada ke dalam syair lagu yang temanya disesuaikan dengan kondisi anak-anak. Sebagai contoh sebagai berikut:

Sumpah Suci
Cipt. Abdul Adjib

Sumpah suci kanggo tanda bukti
Tēkad isun wis abot ning jangji
Duh dingin sekolah waktu cilik  
Duwē batur setia sejati

Wong tuwa kabēh ora setuju    
Kang sun pilih bakal dadi mantu
Jare anakē wong buruh nutu    
Aja tinemu ning anak putu                                                         
Reff:                                     
Gedongana, koncēnana                              
Wong mati mangsa wurunga        2X
Tēkad isun cuma siji       
Bagēn dadi prawan sunti                            

Kēlingan waktu masih sekolah 
Balikē bareng dalan sing sawah
Ndeleng sejodoh manuk ketilang
Pada mēsem bareng-bareng nyawang



Syair digubah (diadaptasi):


Awit zaman Radēn Wiralodra
Gawē bēja rayat mulih harja
Sawah, alas, lenga, lan segara
Gawē rayat makmur sejahtera

Kiyen zaman ilmu teknologi       
Aja kadiran sumber sing bumi  
Sing penting cerdas otak lan ati               
Pendidikan iku paling berarti
                                               
Reff:
Pendidikan nomer siji                    
Gawē cerdas generasi                   2X
Gawē pinter putra-putri                              
Harapan maju pinasti                                   

lingana zaman lagi susah
Rayat bodo negara dijajah
Ayu luru pinter ning sekolah
Pendidikan iku paling utama


SK/KD Kesenian Daerah
Sejak tahun 2010 ada Standar Kompetensi dan Kompetensi Daerah (SKK/KD) Mata Pelajaran Muatan Lokal Kesenian Daerah untuk SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA yang diterbitkan melalui Keputusan Gubernur Jabar No. 431/Kep.700-Disdik/2010. Sayangnya isi SK/KD itu hanya berupa seni karawitan yang berbasis kesenian Sunda, dan tidak mencantumkan kesenian berbasis Cirebonan.
Hal seperti ini harus menjadi ‘PR’ bersama, mengingat adanya payung hukum Peraturan Daerah (Perda) Jabar No. 6/2003 tentang Pemeliharaan Kesenian Daerah di Jawa Barat. Salah satu pengembangan dari Perda itu adalah ketersediaan adanya SK/KD di sekolah (termasuk sekolah-sekolah yang mengembangkan kesenian daerah Cirebon-Indramayu).
Meski demikian, sebagai gambaran bisa disebutkan Struktur Kurikulum yang mencantumkan Seni Karawitan Sunda itu adalah sebagai berikut:
1.       Mulok Kesenian Daerah untuk SD Kelas I-VI masing-masing 2 jam pelajaran.
2.       Mulok Kesenian Daerah untuk SMP/MTs Kelas VII-IX masing-masing 2 jam pelajaran.
3.       Mulok Kesenian Daerah untuk SMA/SMK/MA Kelas X-XII 2 jam pelajaran.
Secara garis besar SK/KD Karawitan Sunda berisikan materi Apresiasi dan Ekspresi. Contohnya sebagai berikut:
Contoh Kelas VI SD/MI:
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
Apresiasi
6.1 Mengapresiasi karawitan sekar gending, serat kanayagan ‘da mi na ti la’, dan pergelaran seni karawitan
Apresiasi
6.1.1       Mengenal jenis karawitan sekar gending tradisi.
6.1.2       Menghapal jenis penyajian karawitan sekar gending tradisi.
Ekspresi
6.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni karawitan sekar gending, serat kanayagan ‘da mi na ti la’, dan pergelaran.
Ekspresi
6.2.1  Memainkan karawitan sekar gending.
6.2.2   Membaca serat kanayagan ‘da mi na ti la’ menggunakan tangga nada pēlog.
Contoh Kelas IX SMP/MTs:
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
Apresiasi
8.1 Mengapresiasi sejarah karawitan daerah setempat, dan karya seni karawitan sekar gending.
Apresiasi
8.1.1          Mengidentifikasi sejarah karawitan daeraah setempat.
8.1.2          Mendeskripsikan sejarah karawitan daeraah setempat.
Ekspresi
8.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni karawitan sekar gending.
Ekspresi
8.2.1 Melakukan observasi terhadap seni karawitan daerah setempat.
8.2.2  Menyajikan pergelaran karawitan sekar gending.
Contoh Kelas XII SMA/SMK/MA:
STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR
Apresiasi
12.1 Mengapresiasi jenis, bentuk penyajian, dan fungsi karawitan sekar gending setempat.
Apresiasi
12.1.1      Mengidentifikasi jenis karawitan sekar gending setempat.
12.1.2 Mendeskripsikan jenis karawitan sekar gending setempat.
Ekspresi
12.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni karawitan sekar gending daerah setempat.
Ekspresi
12.2.1 Membawakan beberapa penyajian sekar gending tradisi.
12.2.2   Membawakan beberapa penyajian karawitan sekar gending ‘wanda anyar’ (kreasi baru).

(3)
Selain musik dan drama, popularitas tarling banyak disumbang dari sisi lagu dan syairnya. Pada syair lagu, bahasa Cerbon-Cermayu yang menjadi unsur utama, banyak dibumbui dengan unsur sastra yang cukup kaya. Dalam kesusastraan, bisa dipelajari syair-syair yang memiliki estetika bahasa. Misalnya berupa purwakanti, wangsalan, parikan, gugon tuwon, pribasa, dan jawokan.

1.       Purwakanti (persamaan bunyi akhir di tiap baris).
Hampir semua lagu seperti ini. Coba lihat pada estetika lagu ini:

“Sedina
sun kelaya
Seminggu
sun kelayu
Sewulan
sun kēlingan
Setaun
Sun keyungyun”
(Lagu “Kebayang” cipt. Salim)



Aja ngajaki
aja ngulati
Isun wis kepēngēn duwē laki
Kang Baridin lanang sejati
(Lagu “Ayu Sekolah”, cipt. Abd. Ajib)

“Putih suci murni
Narik kumbang sejati
Kepēngēn diparani
Cucrupen madu asli”
(Lagu “Melati Segagang”, cipt. Sunarto M.)

2.       Wangsalan (wangsal-wangsul; jawab-pulang; kalimat yang mengungkapkan maksud dengan menggunakan kata-kata yang mirip atau mendekati maksud). Perhatikan pada petikan syair lagu:

krikil kali
bokat wis waktunē

(krikil kali adalah watu, diasosiakan sebagai waktu);

gubug dhuwur
ning tengah-tengah sawah,
mengkēnēn temen
wong dhemen ora kelakon

(gubug dhuwur adalah ranggon, diasosikan sebagai ora kelakon);

pribasanē katibabal
wohēng gori
ora disangka-sangka
sulaya janji
(katibabal wohē gori adalah nangka, diasosiakan sebagai ora disangka-sangka)

piring abang
sing panjunan
(piring abang panjunan adalah laya, diasosiakan kelaya-laya atau sulaya).


3.       Parikan (pantun). Banyak sekali lagu yang menggunakan unsur parikan. Coba lihat pada petikan syair lagu ini:


Kembang sirsak iwak blanak
Wongē blēsak mambunē blēnak;
…………..
Gawē geblog laguē pēlog
Wongē goblog kaya Jaka Dolog
(lagu “Temon”)

Mangan lepet mangan sempora
Mangan koci katut kulitē
Demen ruket bli kira-kira
Dadi siji angēl awitē
(lagu “Ketelak Kēnjēr”)

Ana pribasa kawat apa tali
Yēn duwē kawat aja kanggo sampiran
Sampēyan duwē niat apa beli
Yēn duwē niat aja gawē kapiran
(lagu “Pesisir Balongan)

Manuk kepudang
Wulunē kuning
Sing tek adhang-adhang
Beli bisa balik maning
(lagu “Manuk Kepudang”)


4.       Pribasa atau paribasa (peribahasa). Beberapa lagu menggunakan pribasa dalam syairnya, seprti pada cuplikan lagu:

Kamajaya, Kamajaya, Kamaratih
Pribasanē
(lagu “Pengantēn Baru”)

Wis tekang waktunē
Ibarat Semar klalēn karo mantunē
Gudhēl nyosoni kebo
Bocah cilik pada apal-apal shio
(lagu “Penyakit Jaman”)

Gedongana koncēnana
Wong mati mangsa wurunga
Tēkad isun Cuma siji
Bagēn dadi prawan sunti
(lagu “Sumpah Suci”)


Ibarat dēwa
Sampēyan dēwa asmara
Bagus ning rupa
Ora sok gawē lelara
(Lagu “Lanang Sejati”)


Ibarat kembang cukulē ning watu
Bli bakal mekar ahirē kelayu
Arep ngulati, ngulati ning endi
Sebab kiyen wis hampir frustasi
(Lagu “Tangisan Rindu”)



5.       Jawokan (susunan kata-kata dalam suatu kalimat, yang terdiri dari satu kalimat atau lebih yang berfungsi sebagai mantra atau doa). Coba lihat jawokan pada lagu:


Niat isun arep maca kemat jaran guyang
Dudu ngemat-ngemat tangga
Dudu ngemat wong liwat ning dalan
Sing tek kemat Nok Suratminah
Anakē Bapa Dam kang dunyaē lelantakan
Yēn lagi turu gagē nglilira

Yēn wis nglilir gagē njagonga
Yēn wis njagong gagē ngadega
Mlayua mbrengēngē kaya jaran sedalan-dalan
Teka welas teka asih
Nok Suratminah welas asih ning badan isun”
(Kemat Jaran Guyang)

Sebagaimana karakter dan sifat seni tarling yang terbuka dan egaliter, gubahan dan adaptasi seperti itu sangat mungkin dilakukan.
Demikian, mudah-mudahan berkenan.

Senajan larang tukua inten
Bilih kirang nyuwun pangapunten

Bongkoh-kupat jangan bendara
Bilih lepat nyuwun pangampura

Botok yuyu sambel tomat
Thank you verry much


*disampaikan pada Pelatihan Seni Tarling untuk Guru
diadakan Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian Disdik Propinsi Jawa Barat
di Hotel BMI Lembang, 30 Juni-2 Juli 2011

**Supali Kasim, pemerhati seni-budaya,
mantan Ketua dewan kesenian Indramayu (DKI),
Wakil Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC)



Melati Segagang
Cipt. Sunarto Marta Atmaja


Melati segagang
megar ning pekarangan
Amrat aruma wangi
langka sing nduwēni

Putih suci murni
Narik kumbang sejati
Kepēngēn diparani
Cucrupen madu asli

Aduh sun sang kumbang
Ngerubung pēngēn nrajang
Kuwayang lan kuwayang
Yēn ora kecangcang

Nanging sun melati
Arep sing ati-ati
Watir megar ning tangan
Kumbang sembarangan

Aduh kumbang-kumbang
Yēn pada pengen nrajang
Mēnē aja kepalang
Isun melati karang

Nanging kumbang-kumbang
Emong sing hidung belang
Yēn pēngēn ora sayang
Nyancang mlati segagang

Melati segagang
Lamon durung ana sing nyangcang
Aja watir aja bimbang
Bokat layu dibuang

Melati segagang
Lamon durung ana sing nyancang
Aja watir aja bimbang
Bokat layu dibuang

Pēngēn kumbang sejati
Sing tek senengi ngati
Asal hidup semati
Dunya bareng ngulati


Panen
Cipt. Abdul Adjib


Wayah bengi ayam jago kukuluruk
Lagi panēn buru-buru tangi esuk
Batur-batur pada ketemu ndalan
Cepon arit beli pada ketinggalan

Lagi usum panēn c-empat pb-lima
Cepon karung wis pada metu sing umah

Ēh wong lanang tulung jukutna kētēl
Semono gah amit bae dudu rēwēl

Batur-batur pada kumpul jaluk catu
Pariē ditimbang majikanē tunggu
Buru-buru balik ndeleng pengantēn
Akēh tarling saben bengi musim panēn




Panca Usaha Tani
Cipt.  Abdul Adjib


Yēn wis pada dadi wong tani
Pribēn caraē sugih pari
Dedalanē usaha tani
Kudu diulik diulati

Ana lima usaha tani
Bibitē nggango bibit unggul
C-empat  PB-lima contoē
Kang dipamrih anakē akēh


Reff:
Pengen lemu kudu dipupuk
Umpamanē pupuk urēa
Matek abot ning timbanganē
Lan kang apik pengolahanē

Alat modalē ya kang waras
Kang teratur pengairanē
Tikus sundep lu kudu dibrantas
Menawa baē cukup beras

Iku Panca Usaha Tani
Agem-agemē Bapa Tani
Bisa cukup sandang lan pangan
Ketemu kelawan wareg pangan



Ratminah Ayu Mangkat Sekolah
Cipt.  Abdul Adjib


Ratminah ayu mangkat sekolah
Wingi pa guru nakon ning kita
Aja sampē ora sekolah
Taun kiyen olih ijazah

Wong bli sekolah mbēsukē bita(?)
Mumpung kiyen sira masih bocah
Kanggo mbēsuk yēn olih dēwasa
Aja kiyeng ngurung ning umah

Reff:
Aja ngajaki
aja ngulati
Isun wis kepēngēn duwē laki
Kang Baridin lanang sejati

Yēn sira arep mangkat sekolah
Bli susah sira ngampiri kita
Isun arep dikongkon Mama
Ngirim Kang Baridin ning sawah

Keduhung
Cipt.  Abdul Adjib


Keduhung rasanē ati………
Pikiran krasa keyungyun
Yēn diēling-ēling rasa getun
Sekiyen urip ngelamun

Arep jaluk tulung-tulung sapa
Arep sambat-sambat sapa
Arep ngomong klalēn karo mama
Watirē ora ditrima

Aduh Gusti ingkang maha suci
Pripun nasib kula iki
Keduhung kula bli gawē janji
Lanang mung sampēyan siji

Semēnē rasanē dadi wadon
Kēlingan kang durung klakon.
Awan ketuwon bengi ketuwon
Tek rasa parek ning pangkon

Pikiran krasa keduhung guri
Kēlingan bli mari-mari
Yēn isun bengēn gelem ditari
Beli bakal ditinggal kari

Werua arep tek kintil dingin
Akibatē nyiksa batin
Yēn mama arep ngupai idin
Sun ngulati Kang Baridin 2X

Temon
Cipt. Abdul Ajib




B:            Lagi ēnak-ēnak tungkul mlaku
                Ana bocah wadon ngomong kaku
                Diarani bocah wadon ora ngaku
Nyangka isun wong adol weluku

Yēn isun iki aran Baridin
Urip lagi menderita batin
Saben dina lagi nyandang isin
Sebabē durung ngalami kawin

R:            Arep kawin arep durung ora takon
Bonggan sapa mader akēh wadon
Kembang sirsak iwak blanak
Wonge blēsak mambunē blēnak

Anggur-anggur kanda durung kawin
Dasar lanang bli weruh ngisin
Gawē geblog laguē pelog
Wongē goblog kaya Jaka Dolog

B:            Aja ngomong ganjen
Aja nemen-nemen
Nok bokatan mbesukē demen
R:            Idih eman-eman temen

B:            Aja njimprat-jimprat
Coba ndeleng urat
Nok tek kintil sampē akhērat
R:            Emong sampēyan wong mlarat
B:            Bagēn mlarat Baridin lanang
Demen wadon iku wis wenang

R:            Mengkonon sotēn
lanang gah apa lanangē
Mengkonon sotēn
wadon gah apa wadonē
Wadonē kula larang reganē
Ora pantes Baridin jodonē

B:            Yēn bli kelakon
Sun bagēn lara badanē
R:            Lamon kelakon
Isun sih bagēn ēdanē
B:            Ngomong mengkonon apa temenan
R:            Gelem sumpah pitung turunan

Rayat:   Pancēn Baridin
wong lanang bli weruh isin
Tukar ning dalan
ngomong bli dipikir dingin
Ratminah bli bakal mabok Baridin
Saking Baridin kepēngēn kawin








B:            Aja sok lancang
Bokatan kecangcang
Aja kadiran
Bokatan kapiran
Pira lawasē
Gembleng ayuē

Pēngēn ēdan jarē dēwēkē
Baridin karo nontonē

R:            Log…. Log….
Wongē kaya Jaka Dolog
Lak….lak….
Wongē kaya tukang palak
Dasar wong demen ora kelakon
Omonganē kaya wong wadon

B:            Nok….nok….
Wong gembleng kesawang dēnok
Nok…..nok….
Baridin demen ora kapok
Mlayua ning laklakanēng naga
Tek udag mangsa wurunga

R:            Kepēngēn kawin
Aduh sabar dingin
Apa bli isin
Sampēyan wong miskin
Lamun kula gelem ning sampēyan
Apa sing kanggo pasrahan

B:            Nyah , tampanana!
R:            Sungkan!
B:            Pasrahan aku
R:            Weluku???
B:            Aja gēgēr wong
R:            Emong!!!

B:            Isun ngarti sira nolak
Aja mencicil karo mencilak
R:            Wongē blēsak ambunē blenak
Omonganē kaya wong sowak

B:            Rujak-rujak merak
Campuran rujakē parē
Ya merak, ya manuk bencē
Ya merak, ya manuk bencē
Kaya kēnēn dadi wong blēsak
Yēn duwit sih duwit rēcē
Akēh wadon pada ngēcē

Gugur Cita-cita
Cipt.  Abdul Adjib


Nglamar saben kantor
Pēngēn dadi mandor
Pēngēnē numpakē motor

Disangka bohongan
Dianggep wong-wongan
Sebab wis tutup lowongan

Arep nggendhong pikul
Asal ngudhud ngebul
Watirē pundhak mendukul

Larē kurang susah
Tanggung ning ijazah
Durung tamat ning sekolah

Gadra wisa rerawēnē
Rerawē kuning kembangē
Wong tuwa gawē lantaran
Wong enom ngajak tukaran

Katon ning tekadē
Jelas ning jogedē
Pēngēnē dadi wong gedhē

Wurung dadi wong gedhē
Sebab langka wradhagē
Sing salah sih jambu mēdē


Pengantēn Baru
Cipt.  Abdul Adjib

Pantes dēn sawang,
wadon lan lanang
Si pengantēn

Manis mēsemē,
karo somahē
Gawē bungah

Sing dadi lanang,
sumpingē kembang
Kembang wijaya

Sing dadi wadon,
sumping melati
Aruma wangi

Rēff.:
Mēndadēnē mēndadēnē
mēndadēnē
Yēn mlaku iring-iringan

Gawē ribut
Pēr bēca
kang jengkringan

Pengantēn baru
Pada setuju

Pengantēn baru
Salaman karo tamu

Lair lan batin,
dunya akhērat
Sumpah suci

Uripē bareng,
mengendi bareng
Sumpah jiwa

Waktunē lunga,
numpakē bēca
Keliling kota

Pengantēn baru
Plesir sampē seminggu

Kamajaya, Kamajaya,
Kamaratih
Pribasanē

Nyenengaken
ingkang dadi
Mertuanē

Ngajaki plesir
Lan cengar-ir
Mampar-ir
Waktune lunga
Numpake vespa kliling kota

Salam tangan4x
Klaton karo kenalan
Pesam-pesem ning vespa
Sepanjang jalan

Penganten baru
Ora kiyeng-kiyeg turu
Oenganten baru
Plesir sampe patang minggu

Lanange jagat
Wadone prawan
Pasangane

Dadi joodne seneng uripe
Sugih dunya


Kawin Paksa
Cipt. Udin Zhen


Mana-mēnē wong tuwa baē
Kaya wong wis langka pikirē
Priwen enake, priwen senenge
Wong rumah tangga kawin dipaksa
Pilihan wong tuwa

Bagen batin ora nerima
Nanging sayang ora kuwasa
Najan kecewa batin kesiksa
Sabar tek trima bokat suratan
Takdir Kang Kuwasa

Reff.
Mama, duh tegel temen
Maksa wong ora demen
Mama, duh tegel temen
Maksa wong ora demen

Dasar wong tuwa pancene tega
Tega nyiksa ning kula nelangsa


Piknik ning Cibulan
Cipt. Hj. Dariyah
 


Kēlingan kula kēlingan
Pelesiran jalan-jalan
Lunga piknik ning Cibulan
Ramē-ramē lan bebaturan

Muter-muter pegunungan
Maksudē luru hiburan
Kanggo bebungah pikiran
Bari luru pemandangan

Rēff.:
Angin gunung sumaliwir                               
Banyu bening iwakē pating kelibir       2X
Lanang-wadon adus-adusan             
Gedē-cilik sesenengan                                  

Kula mlirik ngiwē-nengen
Kaya ngangges ning angen-angen
Pikiran ora karuan
Kēlingan nasibē badan





Manuk kepudang


Manuk kepudang
Wulunē kuning
Sing tek adhang-adhang
Beli bisa balik maning

Kebayang-bayang
Keimpi-impi
Turu bli bisa lali
Kelingan pujaan ati




Reff.:
Gubug dhuwur
ning tengah-tengah sawah
mengkēnēn temen
wong demen ora kelakon

Rindu-rindu
Sing ditunggu-tunggu
Seminggu rasa sewindu
Ahirē ketiban napsu




Pemuda Idaman
Cipt. Sadi Maulana


Pemuda idaman dadi impian
Pemuda idaman dadi bayangan
Duh kēlingan ning matanē
Duh kēlingan ning mēsemē
Oh pemuda pujaan dadi bayangan

Pemuda pujaan semanis madu
Pemuda pujaan manis gemuyu
Duh kēlingan ning matanē
Duh kēlingan ning mēsemē
Oh pemuda pujaan dadi bayangan

Reff.
Yēn bli ketemu seminggu
Atiku rindu
Perasaan gemeter seluruh tubuh

Yēn bli ketemu seminggu
Atiku rindu
Perasaan gemeter seluruh tubuh

Ha ha ya ya
Ha ha ya ya ya


Lagu yang terindikasi
epigon lagu lain:
1.      Layang-layang (Koes Plus) pada Cibulan
2.      Syair Pujangga (lagu Melayu) pada Banyumata

Dadi Saksi


Banyumata netes nyirami pipi
Bayangan kelingan ning kekasih
Tanpa salah mutusaken cinta
Cuma karna kisah sing bli nyata

Jurang pemisah sing tek sawang katon
Lara ati dhemen bli kelakon
Putus cinta sing ana ning dhadha
Ora bakal lali sing jiwa

Reff.:
Perpisahan bli tek tangisi
Cuma ketemu sing tek getuni
Putus cinta tinggal kenangan
Sing dialami waktu looran

Bengen sun emong maen cinta
Sing akhire mung gawe kecewa


Bareng-bareng Janji
Cipt. Pepen Effendi


W:        Durung percaya kula ning janjine
Sebab durung ana buktine
L:         Kurang apa semene sayange
Njaluk apa srog ngomonga bae

W:        Dudu emas sing tek pengeni
Dudu dunya sing dijaluki
L:         Dadi apa sing dipengeni
Mumpung wulan lintang sing nyakseni

Reff:
W:        Apa sampeyan bener tresna
Sun pasrah jiwa lan raga
L:         Kakang beli bakal bohongan
yen bohong kakang sumpahe edan

LW:      yu bareng-bareng janji
muga disakseni
ning Gusti Kang Maha Suci

LW:      Sapa sing sulaya
Awas kudu nerima
ning cobaane Kang Kuwasa


Wulan Purnama


Waktu bengi wayahe wulan purnama
Katon cahaya gumilang ning cakrawala
Gawe seneng ning sapa kang nyawang
Kelingan ning masa-masa lagi demenan

Gawe janji karo gandulane ngati
Suka-duka bareng-bareng dilakoni
Ora bakal pisah sampe mati
Wulan purnama dadi saksi kang abadi

Reff:
Nanging janji tinggal janji
Kang ora nana buktine
Najan manis kaya madu
Gawe sulaya akhire

Pribasane katibabal woheng gori
Ora tek sangka bakal sulaya janji
Kaniaya temen nasib badan
Urip sengsara akibat korban rayuan


….

Reff:
Dedali putih tulungana badan iki
Sing lagi la….ra…..aa……… lara ati
Dedali putih tulungana badan iki
Sing lagi la….ra…..aa……… lara ati


Kucing Garong

Kelakuan si kucing garong

Ora kena ndeleng sing mlesnong
Maen sikat maen embat
Apa sing liwat


Kelakuan si Kucing garong
selalu nggolati sasaran
asal ndeleng pepesan
mata blingsatan

Reff:
Iku tandane wong lanang
Sing sipate kaya kucing garong
Awas kudu ngati-ati
Yen kucing garong lagi beraksi

Sing dadi modaal andalan
Kucing ngedhengi duwit atusan
Yen bli kuat nahan iman
Bisa-bisa dadi berantakan


Sepanggung Loroan

Bli bisa diilangaken
Masih tetep bae kangen
Senajan kula wis pisahan
Ning batin tetep kelingan

Sun penegn ketemu maning
Demenan kaya sing dingin
Senajan wong tua bli setuju
Kembang cinta ahire layu

Reff:
Mengkenen temen nasib badan
Cinta putus ning dalan
Senajan mung seumur jagung
Tapi gawe keyungyun

Buktine emong pisahan
Bengen sepanggung loroan

5 komentar:

  1. tarling seringkali dihubungkan dengan, bahkan seringkali diidentikan gitar lan suling. alat musik gitar masuk pada masa portugis. pada waktu itu, ada beberapa orang tawanan dari bangsa portugis oleh raja jawa.sebagai bentuk toleransi dari penjaga penjara, para tahanan itu diberikan kesempatan untuk menghibur diri, yaitu dengan memainkan gitar. alat musik asal portugis ini ketika dimainkan banyak yang menikmati. akhirnya menyebar luas hingga sekarang. pertanyaannya, apakah sbelum ada gitar tidak ada tarling??
    jika dilihat dari namanya, gitar adalah representasi bangsa asing (portugis), sedangkan suling adalah representasi masyarakat lokal (sunda). komunikasi antara budaya asing dan lokal ini terjadi di Indramayu (atau mungkin cirebon) pada waktu itu. jadi bukan hasil produk pribumi, tapi buah dari akulturasi. tapi lama kelamaan masyarakat mengalim bahawa jenis musik tradisional ini lahir dan berkembang dari rahim indramayu.

    BalasHapus
  2. Kesuwun kang informasie, maue bli weru dadi weru, kadang isun seneng bari santai ngrongoknang tarling.

    BalasHapus
  3. Kang ari lagu sing lirike: Wayahe jam siji bengi... wayahe wong turu lali... ndodok njentul dewekan.... bayangan ora karuan.....lst. lagu kuwenkuh judule apa Kang.... kita nggulati ora ketemu... lagu kita masih cilik.... sing weruh tulung todokaken ya Kang....mengko tak kirim BLENGEP .... kangen... pengen ngerongokaken. Kesuwun.

    BalasHapus

statistik