Laman

KISER Dermayon

WACANA & NURANI WONG INDRAMAYU

Senin, 18 Juli 2011

Budaya Dermayu, Apa sih?



Oleh SUPALI KASIM

Mungkin ada yang menganggap kebudayaan adalah kesenian. Mungkin juga ada yang berpendapat kebudayaan Indramayu itu tari topeng, tarling, sandiwara, dan jenis kesenian lainnya. Jadi, budaya Dermayu itu, ya kesenian yang ada di Indramayu.
Benarkah demikian?
Boleh dikatakan tidak terlalu salah, tetapi juga tidak terlalu benar. Lalu, apa sih budaya Dermayu?

Mengenai kebudayaan, ternyata ada 150 batasan/definisi. Coba simak definisi kebudayaan, seperti dikatakan Clyde Kluckhohn (1949): (1) Cara hidup masyarakat, (2) Adat sosial tingkah laku individu, (3) Cara berpikir, merasakan, dan mempercayai, (4) Tingkah laku abstark, (4) Tata cara hidup dalam keluarga, (5) Standar orientasi untuk mengatur masalah.
Kalau menurut Ki Hajar Dewantara, begini: “Budaya berasal dari kata budi, di artikan sebagai jiwa yang telah masak. Kebudayaan itu buah budi manusia. Pada pokoknya terdiri dari tiga kekuatan manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa, atau pikiran, perasaan, dan kemauan.”
Ada lagi pendapat Sutan Takdir Alisjahbana, bahwa kebudayaan adalah pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan, pikiran, kemauan, dan fantasi yang dinamakan budi.”
Cukup banyak, cukup abstrak, dan cukup ruwet kan? Nah, supaya tidak ruwet, kita uraikan saja secara umum bagian-bagian kebudayaan seperti ini, yaitu: (1) Adat-istiadat, (2) Alat dan perlengkapan hidup, (3) Mata pencaharian, (4) Kesenian, (5) Bahasa dan sastra, (6) Sejarah manusia, (7) Sistem religi. Agar tampak jelas, kebudayaan Indramayu bisa diuraikan secara terperinci.
***
Sekarang kita kerucutkan pada kebudayaan Indramayu. Coba kita uraikan, ada apa saja budaya Dermayu itu? Kita uraikan satu-persatu, ya?
Budaya dalam Indramayu itu terdiri dari:
(1)       Adat-istiadat Indramayu:
a.          Upacara adat desa: sedekah bumi, mapag sri, ngunjung, nadran, baritan, ngarot, dsb.
·         Sedekah bumi: Syukuran warga desa setelah masim tanam padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
·         Mapag Sri: Syukuran warga desa menjelang musim panen padi. Biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di balaidesa, dengan lakon Bumi Loka atau asal-usul padi dari Dewi Sri.
·         Ngunjung: Ziarah kubur ke luluhur desa. Biasanya digelar doa bersama dan  pertunjukan wayang golek cepak/menak di areal kuburan desa, dengan lakon babad desa tersebut.
·         Nadran: Syukuran nelayan, biasanya menggelar pertunjukan wayang kulit di areal koperasi nelayan, dengan lakon Budug Basu atau asal-usul ikan.
·         Baritan: Upacara tolak bala/penyakit, biasanya menggelar pertunjukan wayang golek cepak/menak atau doa bersama, bertempat di perempatan desa atau kuburan desa.
·         Ngarot: Syukuran warga beberapa desa di Kecamatan Lelea dan Cidekung menjelang musim tanam padi. Dari balaidesa, Kuwu memberikan alat-alat pertanian kepada kaum muda laki-laki dan bibit tanaman padi kepada kaum muda perempuan. Mereka berkeliling desa, kembali ke balaidesa. Digelar pertunjukan Topeng Lanang yang ditonton kaum perempuan, dan pertunjukan Ronggeng Ketuk yang ditonton kaum laki-laki.
·         Mapag Tamba: Pengaruh Ki Kuwu Sangkan sejak abad ke-15/16 demikian kuatnya, sampai-sampai setiap usai musim tanam padi, dilakukan ritual mapag tamba. Tamba (obat) diambil dari Keraton Cirebon kemudian dijadikan obat untuk tanaman padi.

b.         Upacara adat dalam keluarga: hajatan perkawinan, khitanan, rasulan, adat wanita mengandung sampai melahirkan, adat kematian, dsb.
·         Hajatan perkawinan: Syukuran setelah ijab qabul menikah, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
·         Hajatan khitanan: Syukuran setelah atau berbarengan pada saat anak laki-laki dikhitan, digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
·         Hajatan rasulan: Syukuran untuk anak perempuan (mungkin karena tak punya anak laki-laki), digelar hiburan. Biasanya ada sistem buwuhan berupa beras atau uang (sumbangan yang terikat seperti arisan).
·         Adat wanita mengandung sampai bayi dilahirkan: Dari mulai ngupati (kandungan 4 bulan), mitung wulan (kandungan 7 bulan), bubur lolos (8 bulan), bancakan lenga (9 bulan), syukuran bayi lahir, coplok wudel (usia bayi antara 3-15 hari), gawe aran (usia bayi 1-2 minggu), cukur rambut bayi (usia bayi 40 hari), udun-udunan (usia anak 7 bulan).
·         Adat kematian: Dari mulai memperingati kematian nelung dina (3 hari), mitung dina (7 hari), matang puluh (40 hari), ngatus (100 hari), ngewu (1000 hari).
c.          Adat gotong-royong, tolong-menolong, dsb.: memperbaiki jalan, lingkungan, solokan, memberantas hama tikus, membuat rumah, membuat tempat ibadah, dsb.

(2)       Mata pencaharian penduduk tradisional Indramayu:
a.          Petani: Bersawah tadah hujan (kini: dengan pengauran teknis), berladang, berkebun.
b.         Nelayan: Menangkap berbagai jenis ikan di laut dengan perahu atau kapal tradisional.
c.          Pedagang: Berdagang hasil pertanian, barang-barang lain, dsb.
d.         Buruh: Bekerja di sawah, ladang, atau pekerjaan serabutan lainnya.

(3)       Alat, produksi, dan perlengkapan hidup:
a.          Kerajinan alat-alat pertanian: cangkul, golok, pedang, sabit, garu, dsb.
b.         Kerajinan alat-alat dan perlengkapan nelayan: perahu, kapal, jaring, dsb.
c.          Kerajinan alat angkutan tradisional: pedati, dokar, gerobak, dsb.
d.         Keterampilan membuat rumah: Rumah berbagai model arsitektur.
e.         Keterampilan membuat busana: Batik dan tenun dalam bentuk baju, celana, kain, dsb.
f.           Keterampilan membuat wadah tertentu: Wadah air, wadah beras, wadah uang, dsb.
g.          Keterampilan membuat alat rumah tangga: Alat dapur, perabotan rumah tangga, dsb.
h.         Keterampilan membuat makanan: Makanan khas (nasi lengko, pedesan entog, empal, sate, grejeg, dsb.), kue-kue tradisional (koci, sempora, wajik, dodol, jalabia, bugis, tape, cikak, dsb.)

(4)       Kesenian Indramayu:
a.          Seni Rupa: kedok, wayang kulit, wayang golek, lukisan kaca, melukis di perahu, melukis di becak, lukisan layar sandiwara, ornamen rumah, dsb.
b.         Seni Teater: Sandiwara, Tarling, Wayang kulit, wayang golek.
c.          Seni Musik: Musik tarling, gamelan wayang kulit, gamelan wayang golek, gamelan sandiwara, gamelan tari topeng, tari tayuban, kliningan, renteng.
d.         Seni Suara: Lagu dalam macapat, lagu dalam tarling, lagu dalam sandiwara, lagu dalam wayang kulit, lagu dalam wayang golek.
e.         Seni Sastra: Syair macapat.

(5)       Bahasa dan sastra Indramayu:
Secara umum banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa, yakni dari;
a.       Penyebaran agama Islam oleh para Wali maupun ulama dan Ki Gede dari Demak dan Cirebon.
b.      Pengaruh Mataram Sultan Agung secara politik maupun budaya, yang kemudian menciptakan tingkatan (undak-usuk bahasa). Kini di Indramayu hanya dikenal dua tingkatan, yakni bahasa ngoko/bagongan (kasar) dan krama (halus), atau bahasa pedinan dan bebasan.
c.       Pengaruh dari SR (Sekolah Rakyat), SGB (Sekolah Guru Baru), SGA (Sekola Guru Atas) yang guru-gurunya mayoritas dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mengajarkan bahasa Jawa Wetan.
d.      Bahasa: 2 tingkatan (Ngoko/Bagongan/Padinan dengan Krama/Bebasan)
·         Ngoko/bagongan/padinan: Digunakan sehari-hari, dianggap lebih komunikatif walaupun kurang halus. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
·         Krama/Bebasan: Digunakan saat berbicara dengan orang tua, orang yang lebih dewasa atau lebih tua, dianggap lebih halus dan sopan. Merupakan rumpun bahasa Jawa pesisir (atau menurut Perda Jabar No. 5/2003 adalah bahasa Cirebon).
e.      Sastra: Purwakanti, Wangsalan, Parikan, Pribasa, Gugon Tuwon, Jawokan.
·      Purwakanti: Persamaan bunyi akhir di tiap baris (rima).
Contoh:        Sedina
sun kelaya
Seminggu
sun kelayu
Sewulan
sun kēlingan
Setaun
Sun keyungyun

·      Wangsalan: Wangsal-wangsul; jawab-pulang; kalimat yang mengungkapkan maksud dengan menggunakan kata-kata yang mirip atau mendekati maksud.
Contoh:                krikil kali, bokat wis waktunē
(krikil kali adalah watu, diasosiakan sebagai waktu)

·      Parikan: Pantun dalam bahasa daerah.
Contoh:      Mangan lepet mangan sempora
Mangan koci katut kulitē
Demen ruket bli kira-kira
Dadi siji angēl awitē

·      Pribasa: Peribahasa dalam istilah dan bahasa daerah.
Contoh:      Gedongana koncēnana
Wong mati mangsa wurunga

·      Gugon Tuwon: Sebuah kalimat yang mengandung nasehat, mengajarkan tentang hidup, dan perilaku yang semestinya dijalani manusia.  Berasal dari kata gugu (ditaati, diikuti) dan tuwa (orangtua).
Contoh gugon tuwon dari Sunan Gunungjati:
Ingsun titip tajug lan fakir miskin.
Arti: Aku (Sunan Gunungjati) titipkan tajug/mushola/masjid dan fakir miskin.
Yen kiyeng tamtu pareng, yen bodoh kudu weruh, yen pinter aja keblinger.
Arti: Jika tekun pasti berhasil, jika bodoh harus berpengetahuan, jika pandai jangan pandai menurut diri-sendiri dan seenak sendiri.
Yen sembahyang kungsiya pucuke panah
Arti: Jika sholat seperti berada pada ujung panah.
·      Jawokan: Susunan kata-kata dalam suatu kalimat, yang terdiri dari satu kalimat atau lebih yang berfungsi sebagai mantra atau doa.
Contoh: Niat isun arep maca kemat jaran guyang
Dudu ngemat-ngemat tangga
Dudu ngemat wong liwat ning dalan
Sing tek kemat Nok Suratminah
Anakē Bapa Dam kang dunyaē lelantakan
Yēn lagi turu gagē nglilira

Yēn wis nglilir gagē njagonga
Yēn wis njagong gagē ngadega
Mlayua mbrengēngē kaya jaran sedalan-dalan
Teka welas teka asih
Nok Suratminah welas asih ning badan isun”

(6)       Sejarah manusia Indramayu:
a.       Adanya Kerajaan Manukrawa pada abad ke-5 di sekitar hilir sungai Cimanuk (berdasar Naskah Wangsakerta).
b.      Kerajaan Sumedanglarang ketika berdiri pada abad ke-8, batas wilayahnya mencapai daerah-daerah yang sekarang termasuk Kabupaten Indramayu (Lelea, Kandanghaur).
c.       Ulama Syeh Datuk Kahfi/Syeh Idhofi/Syeh Nurjati (adik ipar Sultan Sulaiman dari Baghdad) pada tahun 1420 tiba di Cirebon dan menetap di Pesambangan, Giri Amparan Jati. Pengaruhnya sampai Indramayu. Petilasannya ada di Desa Pabean Ilir Kec. Pasekan.
d.      Makam Pangeran Guru (Pangeran Selawe) di Desa Dermayu Kec. Sindang, bermotifkan ”surya majapahit”, yang mengindikasikan pengaruh Majapahit pada abad ke-15 sudah sampai ke Indramayu.
e.      Kerajaan Cirebon ketika baru berdiri tahun 1479, batas wilayah ke barat sampai daerah Junti. Batas lainnya adalah Losari (timur), Palimanan (selatan), Cigugur Kuningan (tenggara).
f.        Pengelana Portugis, Tom Pires, pada tahun 1513 mencatat adanya pelabuhan Cimanuk, yang merupakan pelabuhan terbesar kedua setelah Kalapa (Sundakalapa). Pelabuhan lainnya adalah Bantam (Banten), Pomdam (Pontang), Cheguide (Cigede), Tamgaram (Tangerang). Masyarakat sekitar pelabuhan Cimanuk sudah muslim, tetapi syahbandarnya penyembah berhala dari Kerajaan Sunda/Pajajaran.
g.       Naskah Wangsakerta menyebutkan, Wiralodra adalah prajurit Mataram Sultan Agung yang ikut menyerbu Batavia (1628-1629) yang mengalami kekalahan. Dia ditugasi untuk menetap di Cimanuk untuk membuka pesawahan baru. Kelak menjadi Adipati di Indramayu. Versi lain, menyebut Wiralodra dari Demak.
h.      Pengaruh Sultan Agung yang menguasai daerah-daerah di Jawa Barat selama 57 tahun (1620-1677).

(7)       Sistem religi dan kepercayaan yang berkembang di Indramayu:
a.       Upacara keagamaan.
b.      Kepercayaan adanya Tuhan.
c.       Sistem nilai dan pandangan hidup.

***

Jika sudah mengetahui uraian di atas, bagian-bagian kebudayaan memang luas kan? Dan ternyata budaya Dermayu itu cukup kaya kan? Jadi, kalau mengatakan budaya Dermayu itu hanya kesenian belaka, itu baru sebagian kecil saja. Sebab kebudayaan bukan hanya kesenian, tetapi juga ada adat-istiadat, alat dan perlengkapan hidup dan produksi, mata pencaharian, bahasa dan sastra, sejarah manusia, dan sitem religi.


Paoman Asri, 15/07/2011
*Supali Kasim, pendidik, pemerhati seni-budaya, mantan Ketua Dewan Kesenian Indramayu (DKI), Wakil Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC).

**Disampaikan pada kegiatan ceramah kepada peserta Pemilihan Nok-Nang Dermayu 2011
di Hotel Trisula Indramayu, Minggu (17-7-2011)



Referensi:
Atja. 1986. Carita Purwaka Caruban Nagari: Karya sastra sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
Dasuki, H.A., dkk. 1977. Sejarah Indramayu. Indramayu: Sudiam.

Garna, Judistira K. 2008. Budaya Sunda: Melintasi Waktu, Menentang Masa Depan. Bandung: Lembaga Penelitian Unpad dan Judistira Garna Foundation.

Lubis, Mochtar. 2008. Manusia Indonesia.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Raharjo, Untung. 2003. Kesusastraan Cirebon. Cirebon:Yayasan Pradipta.

Sarjono, Agus R. 1999. Pembebasan Budaya-budaya Kita: Sejumlah Gagasan di Tengah Taman Ismail Marzuki. Jakarta: Gramedia.

2 komentar:

  1. Siip, Pak Supali. Ini tinjauan historis yang komparatif dan komprehensif. Dari batur lawas. Subagio Madhari.

    BalasHapus
  2. Lanjutkan Pak!...kula gada bukune, saweg Workshop tarling teng Hotel Zamrud Cirebon,

    BalasHapus

statistik