Halaman

KISER Dermayon

WACANA & NURANI WONG INDRAMAYU

Minggu, 12 Juli 2009

PUISI INDONESIA

Puisi-puisi Supali Kasim


Supali Kasim
Catatan Penari
--Rasinah

sesunyi subuh yang kau peluk
dengan ringkih tubuh
jalanan terjal dalam riuh tetabuh. Tarianmu, Mi
pucuk-pucuk daun bertunas
dan kembang bermekar
urat dan akar bagai sampur
mengunjam ulu bumi
angin, awan, dan langit
bertafakur menyelimutimu. Menihilkan diri
dengan mutih, ngetan, atau puasa wali
fajar pun semerbak mawar
sepak-soder-mu, Mi
mengabarkan warta tentang dunia putih
dari hati putih. Anak-anak berjejer
di pekarangan ngalap berkah
hingga ujung lorong yang pucat,
sesudah klana itu, merontokkan
kendang dan sobrah kebesaranmu. Auramu, Mi
saat tafakur sesunyi subuh dalam ringkih tubuh
membawamu melihat kembali
kedok yang abadi di jiwamu

Indramayu, 2008


*Ketr.:
Sampur : kain panjang sekitar 2,5 km dengan lebar 30 cm sebagai properti tari
Mutih : berpuasa dengan cara hanya makan nasi putih saja dan segelas air
Ngetan : melakukan puasa dengan hanya makan nasi ketan pada saat berbuka
Puasa wali : berpuasa dengan cara tidak makan dan minum sepanjang hari selama
berhari-hari, misalnya tiga hari, tujuh hari, dst.
Sepak soder : salah satu gerak tari yang dilakukan dengan cara membuang soder atau
sampur dengan telapak kaki dan digerakkan ke belakang atau ke depan
Ngalap berkah : memohon keselamatan dan memohon berkah
Klana : sala satu jenis tari dalam topeng
Kendang : gendang pengiring dalam gamelan topeng
Sobrah : salah satu jenis busana pelengkap dalam tari topeng
Kedok : topeng yang terbuat dari kayu


Supali Kasim

Prasasti

--10 Nopember 2007--, di batu ini
telah dimakamkan kembali kejujuran dan kebersahajaan
entahlah pahlawan

meski angin kering kemarau, bunga-bunga tumbuh
tanpa nama. Ranting dan dahan tanpa tanda
madu pun menetes pada anak-anak burung
liar menghadang matahari.. Di luar sarang
peradaban menukik titik nadir
meneteskan luka dari senandung orang-orang
di ranah kekuasaan
seperti bisu, panji-panji merunduk dengan gelam
seserpih sunyi di sudut nurani. Di jalanan,
kemenangan hanya bersandar angkara
bertahun dan berabad menjarah luka
paruh dan sayap kebebasan. Dari balik jendela istana
kebesaran dan kejayaan membayang
lukisan Machiavelli berbalut baju kemunafikan
yang disulam airmata

-- hari itu juga, 10 Nopember 2008,
di taman pusara itu, kejujuran dan kebersahajaan
juga kebenaran dikubur dalam-dalam
entalah keharuan

Indramayu, 10 Nop 2008


Supali Kasim
Karena Aku Telah Menjadi Karna

karena aku telah memilih kesetiaan,
meski jagat pun berputar ke kanan. Riuh angin
meneteskan hitam-merah kehidupan
dan dewa-dewa berkehendak
kekalahan. Langkahku mengerlip kembali masa silam
kabut tipis dini hari di tepi jalan lengang
teronggok orok terbuang, sais pun
memungut kebetulan pada kelir terkembang
peradaban membakar kembali harga diri
dan kehormatan Kunti. Karena aku
telah menjelma keberanian, pohon-pohon merunduk
langit meredup, tak ada kesumat meski palagan
membara pada malam berwarna
telah mempertemukan kembali silsilah,
tulang dan syaraf kita tak lagi mengaliri
pertalian darah. Juga sukma dan nurani kita
pada sebongkah nisan yang kau tancapkan, Arjuna
hingga ulu hati menggoreskan
maut yang biru. Bukan kematian benar
menjadi pilihan, karena aku telah menjadi Karna
menepi di ujung yang jauh. Hanya sajak
dan nyanyian perih bersahutan
menghela keranda awan pekat
melebur kembali pada kebenaran hakiki

2007

Supali Kasim
Di Sini, di Tanah Ini, Hitung Kembali Kekalahan

di sini, di tanah ini, hitung kembali kekalahan. Airmata pun
mengering pada kemarau yang membakar pamflet lama
hingga yel terakhir revolusi. Terkoyak pedih
tak ada lagi gema memantulkan barisan jelata
pada dinding labirin sabnubari, meski hanya sejumput waktu
dan angin telah membawamu ke puncak kerinduanmu lagi
tuliskan kembali abad pendakian semerah darah
yang kita taklukkan dari langit kekuasaan

di sini, di tanah ini, hitung kembali kekalahan. Gerimis pun
berjatuhan meruncing di rerumputan di puncak kemanusiaan
mengitung lagi langkah sia-sia dan meniada. Jejak yang menjauh
berabad membacakan harga diri dan nurani. Imperialisme
kita enyahkan, emperialisme baru bertumbuhan
ilalang liar mengepuing darah kita, sukma kita. Awan yang dulu
lebih menghitam menyeret burung-burung gagak
berebut dan mematuki bangkai kita

Indonesia, 2007




Supali Kasim
Salvo Terakir untuk Benteng Terakir

atas nama kesucian, kata mereka
pekik menggema. Kilat pedang
membuncah guguran bulan
dan bintang di atas kubah
runtuh berderak. Peradaban hanyalah
isyarat perang
merobohkan benteng terakhir kemanusiaan
pada detik kemenangan
yang entah. Angin berdarah
memusar di bumi sejarah
tak ada lagi perbedaan
kilapkan keindahan
tanah peradaban. Atas nama kebenaran, kata mereka
mengusung kematian
di atas keranda kekerasan

di atas langit. Mungkin para nabi para wali
menangisi jejak silam
adzankan kembali keyakinan
yang bukan bahasa kekerasan

2006


Supali Kasim
Di Bawah Bendera Lain selain Partai-Mu

bertahun kami terdekap
kabut pekat menusuk paru-paru dan lambung
dan jantung. Tuhan mungkin berpaling
mungkin murka seperti sinetron religi
berjejal eksploitasi kutukan. Terlalu lama
hitamkan aliran darah kembali ke hulu
lantakkan peradaban

bendera dan balon warna-warni
hembuskan angin musim semi. Bunga-bunga
bermekaran di kertas undian
kibarkan kembali jiwa lusuh
dari tiang runtuh. Seperti pintu gerbang tebarkan
cakrawala masa depan hingga suara kami
dianggap suara Tuhan

di bawah bendera selain bendera-Mu
tiba-tiba segala hanyut terseret bah
kebebasan. Kegamangan anak kecil dengan mainan
dan balon warna-warni meledakkan
musim semi di pagi hari. Kabut pekat
menusuk kembali hari-hari kami
Tuhan mungkin kembali berpaling

2006

Supali Kasim
Anak-anbak Burung Berhambur Lepas

siti, anak burung terhambur lepas. Angkasa luas
geliat bulan hingga jejakkan kaki kecil
tanah seberang dan impian. Perburuan padang tandus
tanpa zaitun, minyak dan zamzam
hanya sebutir kurma melepas terik
atau keringat devisa

inem, anak burung terhambur lepas. Benua jauh
tanpa navigasi dan kompas
belantara pasir alirkan real berdarah-darah
mencabik-cabik usia dari lembar paspor dan visa
terserak sunyi gurun. Wajah yang desa
membentur kilat fatamorgana

minah, anak burung terhambur lepas. Kerlip gemintang
hangat darah membuncah dada remaja
surga yang jauh. Tangan yang kecil
seonggok babu atau budak-belian
di antara tuan dan majikan melipat sungai-sungai
airmata peradaban

anak-anak burung berhambur lepas. Jazirah sepi
remukkan paruh dan sayap
jejak bisu menggemuruh badai
mungkin legenda terpatri udara sunyi. Tentang perjuangan
atau kesia-siaan. Tentang pahlawan
atau pecundang berlepasan negeri loh jinawi

2006

Supali Kasim
Ziarah

hanya sepi. Selebihnya tentang mimpi kita
di jalanan ini di bawah jembatan Semanggi
bergerak kembali
cerita tentang revolusi
atau singgasana terjengkang. Tetapi di taman semerbak
meleleh bunga layu
berita sore di televisi tayangkan reformasi
mati muda. Kota pun acuh
cuma kerlip listrik di tepi jalan
gegas busway dan kereta rel listrik
pulang. Tinggalkan percakapan sambil membanting
kartu domino di meja perjudian
gelegak tawa kemenangan

hanya sepi. Tak ada tembakan terakhir
juga doa dan karangan bunga
tentang darah yang tumpah
mungkin perjuangan atau sia-sia belaka. Catatan
merah di buku berdarah
ketika negeri ini menjilat kembali
ludahnya dari aspal panas
gelegak mahasiswa. Membakar
aroma kebusukan hingga sudut-sudut kota
nurani meleleh meski sekeras baja
ah, mimpi kita lalu terjaga. Mungkin sisakan
esok hari ketika terbit kembali
kemenangan bukan kesia-siaan

2005


Supali Kasim
Tak Ada Lagi Tanah Untukmu

kau pungut lagi cahaya terserak
di atas trotoar menghunus kehidupan
wajah berdebu. Impian kau bangun
meski karaguan
menyergap pori-pori
hingga runtukan kembali kaki lima
ke kota jauh. Mentari berpendar
di lembar undang-undang
perlindungan bagimu. Anak-istrimu
dan tanah yang dijanjikan
hingga derap kekuasaan menghadang kembali
sepatu lars dan barikade menyergap
hari-hari hingga harapan tersungkur
panji kemenangan. Tak ada lagi tanah
untukmu hanya pidato terakhir
mungkin juga requim
atas nama negara menantimu
di bawah tiang gantungan


2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

statistik