Halaman

KISER Dermayon

WACANA & NURANI WONG INDRAMAYU

Minggu, 12 Juli 2009

Kultus Individu dari Dunia Sepi yang Puitis

Kultus Individu dari Dunia Sepi yang Puitis
Oleh SUPALI KASIM

Makhluk apakah penyair di tengah pembangunan(isme) yang mengedepankan metarialisme, bakan konsumerisme dan hedonisme? Seberapa pentingkah melirik puisi dibanding memikirkan jembatan yang terputus, aspal jalan raya yang terkelupas, atau gedung sekolah yang ambruk? Atau bahkan, apa perlunya menggelar acara dialog sastra dibanding membangun yel-yel pro Provinsi Cirebon?
Di Panti Budaya Indramayu, Sabtu (23/2) penyair Yohanto A. Nugraha menggelar “dialog sastra menuju kearifan budaya lokal” (sambil mengingat usianya yang mencapai 53 tahun). Tak ada yang istimewa, hanya agenda biasa yang dilakukan para penggiat sastra. Tak ada yang menarik, selain pembicaranya yang merupakan generasi baru “tukang debat” di Indramayu, yakni Hadi Santosa (musisi) dan Abdul Aziz (penyair). Tak ada yang perlu digugat, sebab proses pendewasaan tengah berlangsung untuk semua yang hadir (penyair, seniman lain, guru sastra, dsb.).
Tak ada yang istimewa, memang, seperti juga matahari yang selalu mengitari bumi berulang-ulang, seperti ombak laut yang mencumbu bibir pantai berulang-ulang. Yang istimewa dan menarik (mungkin) pada diri sosok Yohanto A. Nugraha. Ibarat peribahasa seperti buah kelapa, makin tua makin berminyak. Produktivitas puisi yang tetap terjaga adalah jawabannya sejak remaja hingga usia 53, suatu usia yang mungkin sia-sia ketika parameter kacamata kita adalah pembangunan(isme). Puisi, dengan segala konsekuensinya telah ia redam dalam kebisingan sunyi, yang mengalir dalam darah maupun detak jantung keluarganya. Di Indonesia, sangat-sangat sedikit memilih puisi adalah dunianya, sekaligus mencari nafkah hidupnya.
Penulis yang juga guru teladan nasional, Supriyanto F.Z. malah berterus-terang telah lama meninggalkan puisi, karena dalam puisi hanya ada obsesi dan halusinasi tetapi tak ada gizi! Di Indonesia, puisi tak dihargai. Akan tetapi A. Nugraha tetap menggeluti. Karya-karyanya selain dalam berbagai penerbitan, juga sejumlah buku antologi bersama, antara lain “Antologi Penulis Indramayu (1982), “Tanah Garam” (1992), “Kiser Pesisiran” (1994), “Jurang” (1999), , “Dari Negeri Minyak” (2001), “Lagu Matahari” (2004) dan “Aku Akan Pergi ke Segala Peristiwa” (2006). Antologi tunggalnya adalah “Orasi Sunyi” (2005).


Menjadi biji
Sosok dan hidup A. Nugraha sendiri laiknya puisi sunyi: menyendiri, introvert, tetapi menyimpan magma! Memang, ada kalanya seseorang memilih menjadi bunga: harum, semerbak, menarik, tetapi akhirnya layu. Tak banyak orang yang mengambil peran sebagai biji: tersembunyi, tak terliat, tak menarik, tetapi akan mampu menumbuhkan tunas-tunas. Pembicara Hadi Santosa mencatat, di satu sisi, ada semacam gugatan puisi A. Nugraha “bersembunyi di balik metafor yang ia bikin sendiri, bak sebuah kolase yang menempelkan berbagai teks dalam puisi-puisinya, tidak menghasilkan gagasan apapaun, apalagi soslusi”. Atau kata penyair Saptaguna, “peladang kata yang memanen setiap saat.”
Di sisi lain, totalitas A. Nugraha merupakan energi tersendiri, seperti tampak pada pergelutannya dengan puisi, menghidupan ruh organisasi sastra, lomba-lomba sastra, dan kegiatan sastra lain. Penyair angkatan sesudahnya bahkan sedikit memiliki keterpengaruhan, walau pada akhirnya menemukan corak sendiri.
Memaknai ultah seseorang dengan dialog sastra, justru menjauhkan diri dari apa yang disebut penyakit orang-orang pintar tetapi lemah, yakni kultus individu. Melalui puisi, justru telah terbangun perdebatan secara serius akan esensi puisi dan maknanya. Melalui dialog sastra, justru karya sastra dipertimbangkan, diapresiasi, dihargai, digugat, bahkan dibantai, sekalipun acaranya adalah ultah seseorang (penyair). Mengikuti dialog adalah proses pembacaan itu sendiri. Sebagaimana pembicara Abdul Aziz mengingatkan, membaca adalah aktivitas melihat sesuatu kemudian dibaca, tersurat (firman, buku, majalah, koran, dsb.) ataupun tersirat dalam semesta beserta isinya (termasuk peristiwa manusia, bencana, dsb.).

“Pejah-gesang…”
Kesan pengerucutan simpulan sangat jauh dalam dunia sastra. Tidak seperti debat orang-orang pintar, yang ujung-ujungnya menyerahkan keputusan pada orang yang dianggap lebih tinggi, lebih besar, dan lebih berkuasa, dengan adagium, “kami akan bergerak, apa kata Bapak….”. Dalam hal ini “Pejah-gesang nderek…”, “Opo Jare….”, “Sesuai petunjuk Bapak….,” bukan hanya menjadi bahan olok-olok, tetapi juga pengerdilan jatidiri manusia merdeka dan mendekatkan diri pada kultus individu.
Posisi penyair (sastrawan) sejak dulu memang bukan makluk manusia pada umumnya. Ada semacam gugatan, apa yang kau sumbangkan bagi kehidupan? Kacamata pembangunan(isme) inilah yang seringkali dipakai secara dangkal untuk mengukurnya dengan profesi lain (ukuran terlihat, berjasa secara langsung, berdayaguna secara langsung). Senantiasa dipertanyakan secara elementer, apa sih sumbangan puisi bagi kehidupan?
Jayabaya pada zamannya atau Ranggawarsita pada zamannya sebagai penyair (pujangga) mampu menggambarkan kehidupan dan perilaku menyimpang manusia. Karya-karya mereka menjadi cermin bagi manusia jaman sekarang, bahkan tanpa disadari terjadi pengulangan perlilaku manusia maupun pemerintahan. Jayabaya maupun Ranggawarsita mampu menjadi “saksi sejarah” lewat karya-karyanya.
Marah Rusli melalui “Sitti Nurbaya” tidak berniat melakukan protes sosial atas ketakadilan bagi perempuan yang harus kawin paksa pada jamannya. Ia hanya memiliki cara dan wahana melalui roman, yang kemudian dikategorikan kritikus sebagai protes sosial. Chairil Anwar juga tak hendak memperbaharui bahasa Indonesia gara lebih modern ketimbang bahasa melayu asli, melalui sajak-sajaknya. Akan tetapi karya Cairil memiliki rasa dan nuansa lain, yang mampu menghidupkan bahasa Indonesia yang tidak “kampungan”, “tidak mendayu-dayu” dan terkesan modern.
John F. Kennedy pernah berkata, jika politik sudah kotor, puisi yang akan membersihkannya. Puisi sebagai deterjen? Puisi sebagai abu gosok? Kedengarannya naïf dan demikian instant. Muhammad Yamin malah berujar teks proklamasi adalah puisi (bisa jadi juga teks-teks lainnya). Bahkan kitab suci pun ditulis secara puitis. Ketika orasi, yel, teriak yang cenderung tanpa tedeng aling-aling, bar-bar, dan bombas, puisi seperti kata Jon F. Kennedy bisa menjadi deterjen?
Di tengah hegemoni industri --yang juga merasuk dunia seni--, pilihan menekuni puisi adalah keniscayaan. Merekam jejak, melarutkan imajinasi, dan menuangkan dalam catatan yang seringkali tak dihargai, jika memang sebuah pilihan….***

*Penulis adalah penyair


Supali Kasim
Republik Sega Aking


kiyen iki republik sega aking
negri subur-makmur gawe wong duwur keuwur-uwur
nanging aja takon, yen udan rendeng gawe kelem
banjir ning umah, dalan lan sawah
banyu kali lan banyu mata mbluruk sewayah-wayah
nanging aja takon, yen wayah ketiga ngentak-entak
tela ning sawah nambah mletak
urip sengsara gawe paila
pari kena bapuk, utang nambah numpuk
orea lan puradan larang, gabah kaya kebuang
ning koran lan tipi, pa gubernur lan pa menteri
nyalahaken rayat, jarene alam ora direrawat

kiyen iki republik sega aking
negri aman-tenteram gawe wong sugih ngrasa dieman
nanging aja takon, yen wong ning sor jumpalikan
luruh seperak-rong perak kudu pasang badan
anak ning umah dina kiyen durung tamtu mangan
akire dalan sing dipamba parek-parek setan
begal, copet, maling, gento lan sejene
kaya nggal dina dadi berita rame
dina kiyen ana sing lagi mikir mangan apa
ana maning sing mikir kudu mangan sapa
ning koran lan tipi, pa jaksa lan pa pulisi
nyalahaken rayat, jarene kudu diukum berat

sapa sing gelem disalahaken
republik wis lawas, urip krasa masih ngeden
nelangsa badan nemen-temen
sapa sing bisa disalahaken
kaki-buyut umure nanjak satus enem
sampe presiden wis genti ping enem
sega aking empan bebek, dipangan menusa gelem


Dermayu, 2008




Supali Kasim
Sesambat

aja maning umah lan sawah
wis lawas cangkem lan mata
digadeaken sing jero istana
dadi selembar borek urip ning dunya
tangan lan sikil wis lawas kari aran
diadol lan diitung ijenan
kayadene dengkil ning pasar sato-kewan
ati lan jantung embuh mendi digawa
otot lan getih wis tanpa krana
--apa maning sing dadi duwene kita?

pirang-pirang taun lan abad
etungan ora pragat-pragat
padahal tritis lan grimah
wis lawas diobral murah
blandongan lan pawon dadi grijogane wong sing jaba
sampe teka ning jobong peturon dipamba-pamba
yen nangis, banyumata wis garing-ngringking
yen jerit, suara wis ora bisa njempling
kaya ngenteni blarak garing rigel ning lemah
--apa maning sing dadi duwene kita?

kaya-kayane lakah sing duwe melas
sampe tikus ning lumbung pesta pari lan beras
banyu lan sega wis kena endrim lan portas
sayah lawas ambekan kaya senen-kemis
kena angin bengi awak tambah atis
apa kaya kenen dadi wong ana ning esor
ora duwe wani, ora bisa lapor
aran mung disebut sewaktu madep ngalor
aja-aja, dudu nasibe badan kita bae
--aja-aja, nasibe negara uga pada bae!


Dermayu, 2008



Supali Kasim
Nang, Aja Sampe

nang, wingi kembang suket ning pinggir kali
pada megar kesiram udan sewengi
yen aruma kelawan werna gawe adem ati
kenangapa kudu luruh kembang sing jagat endi-endi?

nang, sekiyen mandenga sing galengan sawah
kelingana sewaktu tandur, matun, lan molah
yen pari sedelat maning gawe berkah
kenangapa luruh sesenengan sing gawe mutah?

nang, sukiki srengenge pasti mencorong
nggawa kebagjan urip ning sekabeh uwong
yen sugih lan pangkat dadi abong-abong
durung tamtu kesejaten urip manjing umah gedong!

nang, mbesuk yen jaman tambah umeb
jagat krasa panas campur anyeb
pirang-pirang perkara krasa numpuk lan anteb
aja sampe agama lan drigama ning ati mari nanceb!

Dermayu, 2008


Supali Kasim
Kesejaten

kaya-kayane wis taunan lara ning jiwa bli dirasa
wis wulanan nangise batin bli metu njaba
kebule kukus Jaman Kaliyuga unggal minggon unggal dina
jam-menit-detik kepaksa nyedot awa tengike dunya
bungenge kuping
pait-ledere ilat
mumete endas
ngos-ngosane napas
apa sampeyan masih ora krasa?

kaya-kayane wolak-walike jaman wis lawas bli dirasa
pirang-pirang abad sing liwat, sejarah bli diwaca
ukara lan tembung, welan pisan nulisaken Jaman Kalatidha
sing bener ora ketenger, sing salah malah dipuja
jahat, munggah pangkat
apik, kepaksa ditampik
lanang, ilang kaprawiraane
wadon, ilang kawirangane
apa sampeyan masih ora krasa-krasa?

kaya-kayane kesejaten urip mung ana ning aksara
mung ana ning duwur langit gawe bebeja
Jaman Kalabendu bladas-bludus ning bumi angkara
comberan ireng-geteng nggregogoti kapribaden menusa
duit dadi utama
kuasa dadi berhala
wong jawa karo separo
cina-landa tinggal sejodo
apa sampeyan masih ora krasa uga?


Dermayu, 2008


Supali Kasim
Ning Tungtume Jagat


ning tungtume jagat
kedok menusa abang-branang kaya Klana
mlakue blagah, mbebadog sewayah-wayah
omongan sing metu mung kari cemera, babi, lan buaya

rajae ngalas kaya berokan
garang, pating gebyor, lan bringas
ambeke gede, pengen ngeleg gunung mbari mancal endas
wadyabala dadi cecunguk
dolanan clurit lan golok luruh wadal
belatung, ula, lan menyawak rebutan batang satoan

akeh mayid dibedel wetenge
isie aspal, brangkas, lan wiwitan alas

ning tungtume jagat
rasa-rasane bumi sayah lawas sayah mengkeret
ning jero ati damar cempor wis lawas mati
prilaku menusa mung kari anguse
wangur lan ireng blegedeg!


Dermayu, 2008

Supali Kasim
Sing Umah Marani Sekolah

--sing umah marani sekolah
bocah-bocah bleput sikile, njadel badane, belek matane
jarene luruh kebagjan kanggo sangu urip ning pengarepe
sing awit mambu kencur sampe mambu pupur
sapa sing bisa nyangka takdire sing Duwur
rikala nambah umure lan nambah elmune
munggah pangkat lan derajat
dadi keprage tetulung masyarakat

--sing umah marani sekolah
bocah-bocah nyokor sikile, wuda badane, polos raine
jarene luru elmu mbari bisa maca lan nulis
lan ngetung lan kanggo sangu urip ning mbesuke
sapa sing weruh ning zaman mengarep
rikala arta-benda, pangkat lan jabatan bisa nyirep
kaya dene ngimpi kena erep-erep
dalan padang lan lurus katone peteng-dedet

--sing sekolah marani dalan-dalan
ning sor klebet abang lan putih
ning kumandange lagu lan puja-puji
lan donga waras-urip dunya-akerat
sing kadoan bocah-bocah katon gede
suwe-suwe dadi wong gede
suwe-suwe rumangsa gede
tambah suwe klalen kamanungsan, klalen kabecikan

--sing dalan marani kantor, pabrik, pasar, lan sejene
bisa maca, sing diwaca mung tipue Welanda
bisa nulis, sing ditulis mung akale iblis
bisa ngitung, itungane batur rugi, deweke untung
dadi pinter, wis pinter dadi kuminter
pancen urip kaya ning sor langit wayah bengrep
sandyakala nggragas, srengenge mingslep
sedelat maning buta-kala mangani bocah-bocah sampe sregep

Dermayu, 2008






Supali Kasim
Puisi Perih kanggo Widadari

sore iki, sun masih tetep ngenteni
seklayabe slendang werna-werni
gelaran layung ning langit abang geni
bagen srengenge atis kemulan mendung ireng
manuk, kupu, kinjeng kaya balik bareng
angin lan gledeg gawe pandengan nambah peteng
: sun nyebut aran ira, krungu sejagat raya!

sore iki, sun masih tetep duwe demen
sekuwayang lambe abang sing mesem
bening mata lan ati gawe adem
bagen jaman wis molak-malik gawe sengsara
obahe jagat lan menusa klalen asale sapa
wong cilik kegencet nambah kelara-lara
: sun nulis aran ira, sampe entok mangsi sesegara!

sore iki lan sore-sore sepengarepe
aran ira kaya njempling ning langit paling duwur,
ning segara paling jero, ning alas paling adoh
nanging mendung ireng lan gledeg bungeng
angin pucat lan udan barat, dalan lan kali dadi siji
jagat sing ngarat-arat krasa supek lan sedlemek
: sun krasa tatu balung lan sumsum!

Dermayu, 2008





Supali Kasim
Ngulati

ning sajerone pasar sing krungu kumandang
wong dagang nggegalek barang
wong tuku pada nganyang
uga duwit segepok gawe rerame pisan
: sekiyen sepi-nyanyep kaya dene pejaratan

ning sajerone kali sing krasa kedung
iwak, yuyu, welut betah ora keduhung
banyu bening liwate jukung
wong mancing melu ngrubung
: sekiyen cetek lan butek kaya pikiran mangmung

ning sajerone padepokan sing krasa sepi
ustad lan kiai kelangan santri
para pendita pegot cerita
guru-guru angel digugu lan ditiru
: sekiyen bocah-bocah pada mlayu ning tipi

ning sajerone dunya sing bisa nyirep ora karuan
gawe wong-wong pada melu edan
apa maning wong sing wis edan
anggepane yen ora edan, ora keduman
: sekiyen tambah edan ngluwihi wong edan ning dalan-dalan

kepriwen lelampahe jagat iki
: keder ning dalan, mandeg ning towang?
kepriwen mlakue menungsa iki
: kesasar ning ara-ara, sing akeh merkayangan?

duh Gusti,
kaya entok ceceluk suara
kaya garing banyu mata
kaya bli kuat tangan lan jriji mbuka

nyuwun ampun lan ampura
dodokaken dalane menungsa
: dudu dalane sato-kewan
apa maning wewe lan gulang-gulang


Cerbon, Juli 2007


Supali Kasim
Pugase Pelesir ning Pesisir

ahire lelampahe badan kaya kesered sumliwir angin
pelesir bebungah ati, mata, cangkem, lan weteng
nanging ning pesisir iki
kaya kesedot marani puser bumi
kaya kegawa ngulati jati diri

dalan, sawah, gunung, lan umah-umah
kisik, ombak, segara, lan jukung-jukung
uga dalane nasib sing awit waktu cilik
mung bisa dideleng sing kaca jero ati
mung bisa dirasa sing beninge jero batin

ning Muara Jati, ana lelamunan wong siji iki
sampe sumedot nelangsa badan
ngulati geni sing mercuasuar
mung suara sepi kelawan semedi
kembang setaman kaya muteri ning Gua Sunyaragi
keraton-keraton ning tengah ati
katon ning mata pengen dipareki
seklayab zaman semana
mung klangenan sing nyata

kemboja lan melati, sumebar aruma wangi
banyu bening mbluruk sing kendi
ning pejaratan karuhun lan wali
kaya pugase jagat ning pelesir iki
badan mung sawiji, arep miyang mendi?

Cerbon, 2007


Supali Kasim
Mung Siji sing Diarepaken

kaya dene srengenge esuk
angin lan ombak segara
pada-pada ngenteni
lakone urip ning dina iki

blarak kelapa, wit cemara, godong-godong gedang
mung ngawe-awe
netesi banyu udan sewengi
sapa sing duwe gawe ning dunya iki?
jagat sing ora ana pragate
ngomongaken napsue menungsa
lan sato-kewan
dina genti dina, wulan nambah wulan
taun-taun kaya mlaku ning dalan
apa masih kaya kenen, nglakoni urip
kaya drama ning panggung tarling
ana mrengute, akeh meseme
ana asihe, uga tukare

kaya dene srengenge
setia muteri jagat
mung siji sing diarepaken
aja pegot ning harapan
aja klalen ning Pengeran


Dermayu, 2007



Supali Kasim
Suwung

ning towang dalan krasa suwung pisan
bagen jriji, badan, ati kita kraket dadi siji
langit ning duwur gawe seneng kelawan muji
--apa maning sing kudu diomongena--
wis lawas Kang Kuasa maringi tresna
kita wong loro mung ketiban genah

manjing tengah kota suwung masih krasa
bagen gumebyar damar sewu padang pisan
mubil, motor, beca sladat-sludut ning dalan
--apa maning sing kudu ditawan--
yen sikil kaya kepater derese udan
kaya kepulut aci sejembangan

rasa suwung kita gawe sumedot dada
bagen ati lan rai katone bungah
tanduran pari wayahe megar ning sawah
--apa maning sing kudu dienteni--
sayah lawas ati bli bisa dipungkiri
kapan bae waktune dadi sawiji

pikiran mangmung nambah rasa suwung
bagen ati dadi siji angel pisan nrabas alangan
yen bli kuat sesambat wong loro dadi edan
--apa maning sing kudu diimpeni--
rajeg ning arep, guri, lan iringan wis dadi geni
burak-santak mbakar mbrudag ning dami

Dermayu, 2008

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum Kang Supali,
    Dari Komunitas Blogger Indramayu nih ngajak Kang Supali gabung.
    Tulisan kang supali sangat berbobot, mudah-mudahan kang supali bisa gabung buat nulis di Wiralodra.com

    Terima kasih

    BalasHapus

statistik