Halaman

KISER Dermayon

WACANA & NURANI WONG INDRAMAYU
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2011

Sejarah Indramayu dari Kacamata Asing



Tanggal 7 Oktober 1527 merupakan hari jadi Indramayu versi Pemkab Indramayu sesuai Perda No. 02/1977 tanggal 24 Juni 1977. Pengambilan tanggal tersebut merupakan rangkaian dari penetapan buku “Sejarah Indramayu”. Buku itu disusun Tim Penelitian Sejarah Indramayu berdasarkan Surat Keputusan Bupati Indramayu Nomor 44/47/Ass.V/Huk/76 tanggal 13 September 1976. Meski dinilai kontroversial, hingga kini putusan tersebut masih digunakan.

Mitologi Modern Hari Jadi Indramayu


 Oleh SUPALI KASIM
                                                                                               
Tanggal kelahiran atau hari jadi bagi suatu daerah tampaknya dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.  Tanggal tersebut dianggap sebagai momentum “proklamasi”, salah satu identitas dan jatidiri daerah, bahkan menjadi simbol kebangkitan warganya. Sejak tahun 1977 Kabupaten Indramayu memiliki hari jadi, dengan ditetapkannya tanggal 7 Oktober 1527, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 02/1977 tanggal 24 Juni 1977.

Kamis, 14 Juli 2011

Mitologi Modern Hari Jadi Indramayu



 Oleh SUPALI KASIM
                                                                                               
Tanggal kelahiran atau hari jadi bagi suatu daerah tampaknya dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.  Tanggal tersebut dianggap sebagai momentum “proklamasi”, salah satu identitas dan jatidiri daerah, bahkan menjadi simbol kebangkitan warganya. Sejak tahun 1977 Kabupaten Indramayu memiliki hari jadi, dengan ditetapkannya tanggal 7 Oktober 1527, berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 02/1977 tanggal 24 Juni 1977.

Menebak Arah Film Sejarah



Oleh SUPALI KASIM

Agak sulit memprediksi tendensi apa di balik rencana pembuatan film berlatar sejarah Indramayu. Film tersebut akan dibiayai APBD Indramayu dan menurut rencana akan menjadi “tontonan wajib” bagi anak sekolah di Indramayu. Di sisi lain justru tak berbanding lurus dengan hasil Seminar Sejarah Indramayu (2007) yang merekomendasikan perlunya penelitian dan penulisan ulang sejarah Indramayu.

Sisi Gelap & Sisi Terang SEJARAH INDRAMAYU





Oleh
Supali Kasim



Seminar Sehari
“Bedah Sejarah Indramayu”

Yayasan Candra Aria Manggala, Karangasem Terisi Indramayu
Sabtu, 8 Mei 2010





Pengungkapan sejarah suatu daerah, salah satunya, adalah melalui penelisikan naskah-naskah yang diketemukan. Hasil dari perburuan untuk mengumpulkan naskah-naskah yang berkaitan dengan Indramayu, setidak-tidaknya telah menemukan gambaran, wujud, dan kronologi sejarah Indramayu dalam berbagai dimensi. Ada yang berupa sepenggal kalimat, sebentuk paragraf, sepotong catatan, naskah atau buku yang berkaitan dengan Indramayu dalam berbagai zaman. Ada yang berasal dari catatan asing (Portugis dan Cina), naskah tradisional (Babad Dermayu dan Naskah Wangsakerta) maupun buku yang ditulis di era sekarang.

Dari Cimanuk ke Indramayu: Jejak Kota Pelabuhan yang Hilang


Oleh SUPALI KASIM
-Dimuat di PR Edisi Cirebon, Des 2010


Pengelana Portugis, Tome Pires (1513-1515) mencatat adanya pelabuhan terbesar kedua di pantai utara setelah Sunda Kalapa, yakni Cimanuk. Pelabuhan lainnya adalah Bantam (Banten), Pomdam (Pontang), Cheguide (Cigede), Tamgaram (Tangerang). Masyarakat sekitar pelabuhan Cimanuk sudah muslim, tetapi syahbandarnya penyembah berhala dari Kerajaan Sunda/Pajajaran.

Hari Jadi Indramayu, Sebuah Kontroversi



Oleh SUPALI KASIM


Tanggal kelahiran atau hari jadi bagi suatu daerah tampaknya dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.  Dasarnya sebagai momentum “proklamasi”, identitas dan jatidiri daerah. Sejak tahun 1977 Kabupaten Indramayu memiliki hari jadi, dengan ditetapkannya tanggal 7 Oktober 1527, berdasarkan Perda No. 02/1977 tanggal 24 Juni 1977. Hal itu merupakan rangkaian dari penetapan buku “Sejarah Indramayu”. Buku itu disusun Tim Penelitian Sejarah Indramayu berdasarkan SK Bupati Indramayu No. 44/47/Ass.V/Huk/76 tanggal 13 September 1976. Menurut penelitian tim tersebut, peristiwa itu terjadi pada hari Jumat Kliwon, tanggal 1, bulan Sura, tahun 1449 Saka., atau tanggal 1, bulan Muharam, tahun 934 Hijriyah. yang bertepatan dengan tanggal 7 Oktober 1527 Masehi.

Endang Dharma Ayu, Perempuan Berselubung Misteri




Oleh SUPALI KASIM
Endang Darma Ayu dikenal masyarakat Indramayu sebagai perempuan yang berjasa melahirkan daerah Indramayu. Konon dari nama Dharma Ayu, kemudian menjadi Dharmayu, Dermayu, lidah Belanda menyebutnya in-Dermayu, dan akhirnya Indramayu. Hingga kini masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Indramayu memberikan apresiasi yang dalam. Terbukti penghargaan diabadikan pada beberapa nama gedung atau kelompok, seperti GOR “Dharma Ayu”, Apotik ”Darma Ayu” milik Pemkab,  Aula “Nyi Mas Endang Dharma Ayu” di lingkungan Universitas Wiralodra,  grup seni tarling “Endang Dharma”, yang juga menokohkan seorang pesinden perempuan, Ny. Dadang Darniyah.

Cinta Buta pada Sejarah Indramayu



Oleh SUPALI KASIM

Pada dasawarsa akhir 2000-an ini ada spirit baru di kalangan wong Dermayu, baik yang ada di Indramayu maupun di perantauan, untuk menengok kembali sejarah leluhurnya. Dimulai dari perbincangan hangat di warung wedang hingga seminar ilmiah di hotel berbintang. Ada perburuan teks babad di pelosok desa hingga pencarian foto di negeri Belanda. Ada pula lukisan Wiralodra yang didukung meditasi hingga pemugaran makam yang dikomandani Kajari (Kepala Kejaksaan Negeri).

Cimanuk, Gugusan Sejarah yang Terputus



Oleh SUPALI KASIM

Kompas (11/11/09) memuat tulisan tentang pelabuhan Cimanuk yang ditulis Litbang Kompas. Meski disajikan secara sekilas, tulisan itu setidaknya memiliki beberapa makna: Mengingatkan betapa pentingnya peran pelabuhan Cimanuk sejak abad ke-16, bagaimana terjadinya nama-nama desa di sekitarnya, dan akulturasi yang terjadi antara pedagang Arab, India, dan Cina dengan masyarakat pribumi.

Minggu, 19 September 2010

Cimanuk, Gugusan Sejarah yang Terputus

dimuat di Kompas

Oleh SUPALI KASIM
Kompas (11/11/09) memuat tulisan tentang pelabuhan Cimanuk yang ditulis Litbang Kompas. Meski disajikan secara sekilas, tulisan itu setidaknya memiliki beberapa makna: Mengingatkan betapa pentingnya peran pelabuhan Cimanuk sejak abad ke-16, bagaimana terjadinya nama-nama desa di sekitarnya, dan akulturasi yang terjadi antara pedagang Arab, India, dan Cina dengan masyarakat pribumi.
Pengelana Portugis, Tome Pires (1513) mencatatnya sebagai pelabuhan kedua terbesar setelah Sunda Kelapa, di antara empat pelabuhan lainnya yang dikuasai Kerajaan Sunda (abad ke-8 – ke-17). Peta Pulau Jawa dalam buku Da Asia, Decada IV (Barros, ed. Joao Baptista Lavanha: 1615) memaparkan sungai Cimanuk (Chiamo atau Chenano) memisahkan wilayah Sunda dengan Jawa.
Pada masa itu, badan Sungai Cimanuk cukup lebar sehingga dapat dilalui kapal dari lepas pantai hingga menuju pusat kota di Desa Dermayu. Lokasi pelabuhan diperkirakan terletak di Kecamatan Pasekan. Di wilayah ini terdapat tiga desa yang merujuk pada kegiatan pelabuhan. Desa Pabean berasal dari kata bea yang berarti pajak atau cukai. Desa Pagirikan berasal dari kata girik yang merujuk pada surat izin keluar masuk daerah pelabuhan. Desa Pasekan berasal dari pasek yang berarti penyimpanan barang bongkar muat kapal. Maraknya kegiatan pelabuhan meluas hingga Desa Paoman, Kecamatan Indramayu. Paoman berasal dari kata omah yang merupakan perumahan para pegawai Pabean.

Rabu, 30 Desember 2009

Ciamanuk, Gugusan Sejarah yang Terputus

Oleh SUPALI KASIM



Kompas (11/11/09) memuat tulisan tentang pelabuhan Cimanuk yang ditulis Litbang Kompas. Meski disajikan secara sekilas, tulisan itu setidaknya memiliki beberapa makna: Mengingatkan betapa pentingnya peran pelabuhan Cimanuk sejak abad ke-16, bagaimana terjadinya nama-nama desa di sekitarnya, dan akulturasi yang terjadi antara pedagang Arab, India, dan Cina dengan masyarakat pribumi.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Opini HARI JADI INDRAMAYU, SEBUAH KONTROVERSI

Hari Jadi Indramayu, Sebuah Kontroversi
Oleh SUPALI KASIM


Tanggal kelahiran atau hari jadi bagi suatu daerah tampaknya dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting. Dasarnya sebagai momentum “proklamasi”, identitas dan jatidiri daerah. Sejak tahun 1977 Kabupaten Indramayu memiliki hari jadi, dengan ditetapkannya tanggal 7 Oktober 1527, berdasarkan Perda No. 02/1977 tanggal 24 Juni 1977. Hal itu merupakan rangkaian dari penetapan buku “Sejarah Indramayu”. Buku itu disusun Tim Penelitian Sejarah Indramayu berdasarkan SK Bupati Indramayu No. 44/47/Ass.V/Huk/76 tanggal 13 September 1976. Menurut penelitian tim tersebut, peristiwa itu terjadi pada hari Jumat Kliwon, tanggal 1, bulan Sura, tahun 1449 Saka., atau tanggal 1, bulan Muharam, tahun 934 Hijriyah. yang bertepatan dengan tanggal 7 Oktober 1527 Masehi.

Opini INDRAMAYU DAN MITOLOGI HARI JADI

Indramayu dan Mitologi Hari Jadi
Oleh SUPALI KASIM

Hari Jadi, agaknya amat diperlukan sebagai sebuah mitologi baru dan modern untuk legitimasi kekuasaan dan kepercayaan rakyat terhadap kekuasaan, meskipun dalam suasana dan atmosfer demokrasi. Adanya ”hari proklamasi” sebuah daerah, kronologis terjadinya suatu daerah, silsilah keturunan para pendirinya, dijadikan spirit dan ruh untuk pembangunan rakyatnya. Penguasa berikutnya seperti memiliki keyakinan, bahwa apa yang dilakukan hari ini adalah matarantai pembangunan sebelumnya guna mewujudkan masyarakat yang gemah ripah lo jinawi sehingga tidak ada alasan bagi orang lain untuk mempermasalahkan kekuasaan yang ia pegang.

Opini SISI GELAP SEJARAH INDRAMAYU

Sisi Gelap Sejarah Indramayu
Oleh SUPALI KASIM

Sejarah berasal dari bahasa Arab, syajara (terjadi), syajarah (pohon), syajarah an-nasab (pohon silsilah). Dalam khazanah bahasa Cirebon-Indramayu, sejarah justru dianggap berasal dari kata sejare-jare (katanya-katanya). Sebuah pernyataan kirata (dikira-kira tetapi nyata), tetapi juga menusuk substansi bangunan kokoh yang selama ini bernama sejarah. Sejare-jare inilah yang kemudian lekat dengan istilah sejarah peteng, sebuah kegelapan sejarah yang diselimuti unsur-unsur legenda dan mitologi.

Minggu, 12 Juli 2009

Sejarah Indramayu

Dari Buku SISI GELAP SEJARAH INDRAMAYU
(oleh SUPALI KASIM)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Geografis dan Sosio-kultural












Kabupaten Indramayu yang termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat, dengan wilayah darat 20.006,4 km2 merupakan wilayah yang cukup luas. Sumberdaya alamnya dari laut, sawah, dan hutan. Secara historis, selama ini Indramayu menyatakan diri memiliki akar sejarah dari Jawa Tengah (Bagelen) melalui tokoh Arya Wiralodra. Dalam beberapa sumber, ada yang menyebut tokoh ini utusan Demak (abad ke-16), ada pula yang menyebut Mataram (abad ke-17). Akar sejarah itulah yang menjadikan Indramayu bukanlah wilayah Sunda, meskipun berada di Jawa Barat yang mayoritas dihuni suku Sunda dan berbahasa Sunda. Meski demikian, perkembangan selanjutnya menunjukkan Indramayu juga tidak serupa dengan realitas sosio-kultur Jawa Tengah. Ada semacam sosio-kultur tersendiri yang “bukan Jawa” dan “bukan pula Sunda”. Bagi orang Indramayu, menyebut orang Jawa Tengah adalah “wong wetan”, sedangkan orang Pasundan adalah “wong gunung”. Sosio-kultur Indramayu itu menunjukkan karakter yang sebangun dengan Cirebon.
Secara akar sejarah pula, beberapa daerah di Indramayu berkaitan dan banyak dipengaruhi kerajaan lain di sekitarnya, seperti Cirebon dan Sumedanglarang. Jika yang disebut wilayah kekuasaan Wiralodra sebagai Kabupaten Indramayu seperti sekarang, tampaknya harus ditelisik lebih dalam. Ketika dinasti Wiralodra berkuasa hingga pertengahan abad ke-19, peristiwa politik dan keagamaan di Pulau Jawa sangat dinamis. Dimulai dari runtuhnya Majapahit sebagai simbol kebesaran agama Hindu pada tahun 1527, dinamika itu tampak dengan kemunculan kerajaan Islam, Demak, yang mampu berpengaruh pada Cirebon dan Banten, serta dikuasainya Sundakelapa dari Pajajaran. Simbol kebesaran Hindu lainnya dalam diri Pajajaran pun runtuh juga. Gegap politik dan kekuasaan seperti itu sedikit banyak, tentu saja, memiliki pengaruh yang kuat pada Cimanuk (Indramayu) sebagai wilayah kecil yang berada pada pusaran dinamika itu. Berakhirnya era Hindu dan bangkitnya Islam juga menyentuh kehidupan sosio-religi di wilayah tersebut. Ketika Mataram menguasai Jawa Barat selama 57 tahun (1620-1677), pengaruh kekuasaan itu sangat jelas pada daerah-daerah yang sekarang bernama Ciamis, Tasikmalaya, Sumedang, Bandung, Cirebon, dan beberapa lainnya sebagai wilayah imperium Mataram.

statistik