Halaman

KISER Dermayon

WACANA & NURANI WONG INDRAMAYU
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2011

Tarling: Kreasi, Ekspresi, dan Edukasi



Oleh SUPALI KASIM

(1)
Ketika membicarakan tarling, ada baiknya membicarakan beberapa hal dari berbagai segi. Tarling memiliki dimensi-dimensi, seperti asal-usul, tokoh-tokoh, fungsi, bahasa, musik, dan drama.

Menata Tari, Menata Diri (Spirit untuk Tari Trebang Randu Kentir)



Oleh SUPALI KASIM

Menentukan sebuah ikon bagi daerah, mungkin dimaksudkan sebagai lambang jatidiri daerah agar bisa tergambarkan secara elok dan mampu memberi spirit kehidupan dalam berbagai dimensi. Ikon berupa tari, bernama Tari Randu Kentir, bagi Indramayu mungkin berkaitan dengan etika, estetika, dan identitas Indramayu dalam percaturan kesenian dan kebudayaan.

‘Robohnya Sanggar Kami’



Oleh SUPALI KASIM

Bagi wong Cerbon-Dermayu, eksistensi sanggar seni bukan hanya bermakna sebagai tuntutan menuju kehidupan yang estetis. Lebih dari itu memiliki korelasi semacam simbiosis mutualistis dengan kehidupan sosial, ekonomi, bahkan relijiositas atau kepercayaan tertentu. Sanggar seni menjadi seperti penanda perkembangan atau penyempitan terhadap apresiasi nilai-nilai kehidupan di masyarakat.

Batik Paoman dan Perlawanan Kultural



Oleh SUPALI KASIM

Mungkinkah karya kerajinan batik menjadi media ekspresi perlawanan rakyat selama beratus-ratus tahun?

Di Kabupaten Indramayu, perlawanan rakyat secara kultural teradap imperialisme Belanda dituangkan menjadi motif-motif batik. Dari sekitar 140-an motif batik yang diketemukan, hampir setengahnya merupakan motif bercorak perlawanan. Secara impresif rakyat merespon gegap-gempita penjajahan dengan simbol-simbol tertentu lewat coretan-coretan canting di atas kain mori.

Kamis, 14 Juli 2011

Wanodya Dermayu, Kanjeng Ratu, Udan Watu....




Wanodya Dermayu rupi-rupine wonten seratan ing kang lumayan sae. Wonten panggonan kusus teng ati masyarakat Indramayu kangge mahluk ing kang kasebat wanodya puniku. Golongan aliran kepercayaan Bumi Segandu utawi kawentare disebat Dayak Losarang malah ngagung-agungaken pisan dumateng mahluk wanodya. Golongan puniku ngajeni wanodya, keranten kepercayaanipun minangka titisan Ibu Ratu utawi Kanjeng Ratu.

Sebuah Lagu dan Hitam-putih Indramayu


-dimuat di Khazanah Pikiran Rakyat, Des 2006


 
Oleh SUPALI KASIM*                       


Sebuah karya seni berupa lagu dangdut berjudul “Indramayu”, yang diciptakan Endang Raes dan dinyanyikan Ayunia membuat membuat heboh Indramayu. Bupati Indramayu mengecam. Ketua DPRD mengecam. Setali tiga uang juga dilontarkan Kepala Kantor Budpar Kab. Indramayu, Ketua Wadah Artis dan Musisi Indramayu (WAMPI), beberapa penyanyi dan pencipta lagu di Indramayu.

Saweran Dana dari Kadana



Oleh SUPALI KASIM

Peribahasa Cirebon-Indramayu, “Kebo nyusu gudel” agaknya tepat untuk menggambarkan fenomena kini tentang permintaan dana, yang justru dari wong gede kepada wong cilik. Kerbau menyusu kepada gudel (anak kerbau) adalah suatu perilaku terbalik yang berimplikasi sangat luas: kemiskinan makin menjadi, pemerasan terselubung, korupsi, dan bahkan hilangnya rasa malu.

”Ruwatan Murwakala” Pilkada (Indramayu)

-dimuat di Kompas Jabar

Oleh SUPALI KASIM

Jika tradisi ruwatan murwakala ditafsirkan sebagai upaya meningkatkan derajat manusia, ada baiknya pemilihan kepala daerah (Pilkada) melakukannya. Ruwatan menjadi perlu, jika selalu ada penyimpangan dalam proses Pilkada. Ruwatan menjadi penting, agar sang raksasa Betara Kala tidak menjadi rakus. Bisa jadi jika dibiarkan, ia menjadi pemakan segala, dari besi beton, aspal jalan, dana bencana, dan angka-angka APBD lainnya.

Kucing Garong dan Bahaya Laten Korupsi

Oleh SUPALI KASIM

Apakah korupsi sudah menjadi karakter kita?  Peringatan Jayabaya, Mochtar Lubis, NU, Muhammadiyah, ICW, Cicak, Gerakan Indonesia Bersih, hingga lagu ’Kucing Garong’ mengindikasikan korupsi sudah mengurat-akar dan melemahkan seluruh sendi-sendi kehidupan.

Menelusuri Tradisi “Adus Sumur Pitu” di Cirebon


Oleh SUPALI KASIM







BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang masalah
Di wilayah Cirebon hidup dan berkembang berbagai tradisi dan kebudayaan. Ada yang berasal dari zaman sebelum Islam, tetapi banyak yang berasal dari tradisi ketika Islam tersebar dengan tokohnya adala para Wali Sanga. Apalagi wilayah Cirebon juga menjadi pusat penyebaran Islam dengan pimpinan salah seorang wali yang juga sultan, Sunan Gunungjati.
Salah satu tradisi yang masih berlangsung hingga kini adalah “adus sumur pitu” atau mandi tujuh sumur. Menurut budayawan Cirebon, Nurdin M. Noer, tradisi tersebut berdasarkan cerita dari mulut ke mulut (tradisi lisan) dimulai pada masa Sunan Gunungjati abad ke-15 sampai 16. Hingga kini ada beberapa kelompok masyarakat yang melestarikan tradisi di tujuh sumur di kompleks pemakaman Astana Gunung Sembung itu.
Selama berabad-abad tradisi itu tetap berlangsung, karena adanya semacam kepercayaan tertentu mendapatkan berkah. Tradisi itu menjadi unik, karena biasanya seseorang cukup mandi di sebuah sumur, tetapi trradisi tersebut mengharuskan orang mandi di tujuh sumur. Di tujuh sumur yang berbeda-beda itu, berharap berkah yang berbeda-beda pula.

Politik, Politisi, dan Perempuan Indramayu


Oleh SUPALI KASIM

Stigma politik adalah milik kaum laki-laki, mungkin benar. Setidaknya dilihat dari segi kuantitas, kaum perempuan senantiasa berada pada prosentase yang rendah. Rentetan peristiwa politik yang ditulis dalam historiografi modern maupun tradisional, di dunia ataupun Indonesia dan daerah-daerah menempatkan laki-laki amat lekat sebagai figur sentral. Tema-tema sejarah yang berpusat pada politik mengindikasikan kecenderungan pada masalah kekuasaan dan keperkasaan, yang nota bene adalah kiprah laki-laki.

Piala Dunia dan Pilkada




Berbarengan dengan pembukaan Piala Dunia di Afrika Selatan, suhu Pilkada mulai menghangat di Indramayu. Enam pasang cabup-cawabup sudah mendaftarkan diri ke KPUD Indramayu. Tiga pasang dari jalur independen, yaitu Toto Sucartono-Kasan Basari, Mulyono Martono-Handaru Wijaya Kusuma, Api Karpi-Rawita, dan tiga pasang lagi dari jalur partai, yakni Gorry Sanuri-Ruslandi, Uryanto Hadi-Abas Assafah, Anna Sophanah-Supendi.

Maestro Seni dan Tradisi Regenerasi

-dimuat di Kompas Jabar

Oleh SUPALI KASIM

Maestro-maestro seni di tatar Cirebon-Indramayu memang pada akhirnya satu persatu pergi, karena takdir kematian. Sebuah takdir dengan berbagai sebab: usia renta, penyakit, atau bahkan kecelakaan lalulintas. Di sisi lain regenerasi seni menjadi bagian amat penting akan keberlangsungan seni tradisi, karena ketiadaan sekolah menengah atau perguruan tinggi yang khusus mempelajari seni  Cerbon-Dermayon.

Perempuan dalam Kultur Dermayu

Oleh SUPALI KASIM
Ujung tahun ini seakan-akan menegaskan kembali betapa penting keberadaan perempuan Dermayu. Kiprah politik Ny Anna Sophanah ditahbiskan secara formal sebagai Bupati Indramayu. Pemilu kepala daerah telah dimenanginya. Gugatan di Mahkamah Konstitusi dari para lawannya, yang notabene lelaki, telah dipatahkan. Tanggal 12 Desember 2010 Gubernur Jawa Barat melantiknya. Ia pun menjadi ”mimi” (ibu, bahasa Cerbon-Dermayu) bagi 2 juta warganya.

Nilai-nilai Budaya pada “Petatah-petitih Sunan Gunungjati”

Oleh SUPALI KASIM


Latar Belakang
Keberadaan karya sastra Cirebon sudah diketahui sejak zaman Hindu, masa Islam, hingga  perkembangan sekarang atau mutakhir. Pembagian perkembangan sastra Cirebon tersebut yakni dari mulai Masa Cirebon Kuna (sejak zaman Hindu Kuno hingga akhir abad ke-16), Masa Cirebon Tengahan (awal abad ke-17 sampai akhir tahun 1800-an), hingga Masa Cirebon Modern (sejak tahun 1800-an sampai pertengahan 1900) (Raharjo, 2006:11). Perkembangan tersebut selain dipengaruhi oleh faktor bahasa itu sendiri, juga adanya faktor sejarah. Secara historis, sejak pertengahan abad ke-13 beberapa kerajaan/kesultanan besar ikut memberi pengaruh adanya bahasa Cirebon, antara lain pengaruh dari Kerajaan Majapahit (hingga abad ke-16), Kerajaan Sunda/Pajajaran (abad ke-15), Kesultanan Demak (abad ke-16), dan Kesultanan Mataram (abad ke-17).

’Kemat Jaran Guyang’ dari Sastra Cerbonan

 
Oleh SUPALI KASIM
Dimuat di Pikiran Rakyat/Khazanah 
Meski memiliki kekayaan sastra lisan dan sastra yang dipanggungkan, nyaris tidak diketemukan sastra Cirebon dalam bentuk penerbitan media massa maupun buku. Kalaupun ada, hanya dalam bentuk satu kolom kecil di sebuah koran atau buku yang dicetak  sederhana dan terbatas. Karya sastra Cerbonan ibaratnya hanya ditulis dan didokumentasikan di rumah penulisnya, tanpa mengetahui harus bagaimana untuk diterbitkan.
Karya sastra yang dilahirkan pengarang sulit untuk dipublikasikan di media massa. Penerbitan buku juga terbentur kecilnya pangsa pasar. Hal ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan karya sastra Sunda maupun Jawa. Beberapa majalah dan suratkabar berbahasa Sunda antara lain Mangle, Galura, Sipatahunan, Kujang, Giwangkara, Cangkurileung, Cakakak. Penerbit yang mendukung bahasa Sunda, antara lain Geger Sunten.
Penerbitan bahasa dan sastra Jawa bahkan lebih banyak lagi, seperti Mekar Sari, Jaka Lodang, Panyebar Semangat, Jaya Baya, Crita Cekak, Pustaka Roman, Kumandhang, Sekar Jagad, Gotong Royong, Cendrawasih, Ekspres, Kekasihku, Baluwerti, Dharma Kanda, Dharma Nyata, Kembang Brayan, Kunthi, Jawa Anyar, Parikesit. Penerbit buku bahasa Jawa antara lain Pustaka Jaya, Kondang, Burung Wali, Firma Nasional, Balai Pustaka.
Dukungan secara akademisi pun cukup signifikan. Perguruan tinggi yang membuka jurusan Bahasa dan Sastra Sunda, yakni di Unpad dan UPI Bandung. Sedangkan jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, antara lain UGM, UNY, UNS, dan UI.
Kondisi yang memrihatinkan ini mungkin seperti nasib Baridin dalam drama-tarling Abdul Ajib, yang cintanya ditolak mentah-mentah karena kemiskinan. Padahal sebagai pribadi, Baridin tergolong pemuda yang ulet dan tulus cintanya. Secara diam-diam, gadis yang ditaksirnya, Suratminah, juga seperti memberikan harapan. Sampai-sampai, guna-guna berupa ”kemat jaran guyang” pun dilakukan untuk menundukkan gadis pujaan itu.
Wilayah kultural
Wilayah kultural Cirebon secara geografis memang tidak begitu luas. Di antara 26 kabupaten/kota di Jawa Barat, hanya tiga daerah yang bernuansa budaya Cerbonan, yakni meliputi Kota Cirebon, Kab. Cirebon, dan Kab. Indramayu. Wilayah lainnya adalah bagian  utara Kab. Majalengka, juga sebagian wilayah utara Kab. Subang dan Karawang. Jika ditelisik lebih dalam, komunitas yang menggunakan dan memahami bahasa Cirebon di Kota Cirebon mungkin sekitar 80%, Kab. Cirebon sekitar 75%, dan Kab. Indramayu sekitar 95%.
Selama bertahun-tahun penggunaan bahasa Cirebon teraktualisasikan lewat hubungan sosial-kemasyarakatan, lembaga pemerintahan, pendidikan formal, dan pesantren, maupun dalam kesenian. Hal ini menunjukkan adanya ekspresi bahasa yang memang berbeda. Sastra Cirebon juga menunjukkan adanya esensi yang mengusung nilai-nilai kebahasaan yang spesifik. Untung Raharjo (2005) mencatat  adanya kakawen, kidung, gugon tuwon, jawokan (abad 15-17), macapat, perlambang/pralampita, sandisastra, sasmita, panyandra (abad 18-19), wangsalan, parikan, paribasa, sanepa, ukara sesumbar, basa prenesan, basa rinengga/rineka,. (abad 19-20), macapat, geguritan, cerpen, puisi bebas (1950-sekarang).
Aktualisasi melalui media massa memang sulit. Suratkabar lokal yang terbit di Cirebon dan Indramayu hanya menyediakan kolom kecil berupa “guyonan” maupun “pojok” yang ditulis redakturnya. Sisipan dari media lain mulai ada, tetapi itupun terbatas. Sesekali memang muncul puisi Cerbonan.
Untuk penerbitan buku, nasibnya tak jauh berbeda. Buku kumpulan puisi karya Ahmad Syubbanuddin Alwy dkk dalam Susub Landep (2008), Nguntal Negara (2009), Gandrung Kapilayu (2010) yang dicetak sederhana dan terbatas oleh Yayasan Dewan Kesenian Cirebon, lebih bertujuan sebagai naskah lomba baca puisi. Buku kumpulan puisi Nurochman Sudibyo, Blarak Sengkle (2007), Godong Garing Keterjang Angin (2008) dan Bahtera Nuh (2009) dicetak lebih sederhana lagi dan seperti dokumen pribadi. Ada pula karya cerpen Made Casta dan puisi Ahmad Syubbanuddin Alwy dalam buku Wulan Seduwuring Geni, tetapi terbit bersama karya sastra daerah lain.
Selama ini karya bahasa maupun sastra lebih banyak menjadi dokumentasi pribadi penulisnya. Sesungguhnya jumlah penulis bahasa atau sastra cukup banyak, sebut misalnya Salana, Kartani, TD Sudjana, Askadi Sastra Suganda, Nurdin M. Noer, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Sumbadi Sastra Alam, Made Casta, Akim Garis, Masduki Sarpin, Sadiyana, Mansyur, Abdul Ajib, Sunarto Marta Atmaja, Subagio Madhari, Dino Syahrudin, Fathan Mubarok, Jay Ali Muhammad, Chaerul Salam, Untung Raharjo, Roji Hidayat, Mudaim, Syaufah (Cirebon), Warnali, Daro’uf, Sulistijo, Abdul Kosim Muin, Darijo, Tatang Sutandi, Durokhim, Samir Sulanjana, Musa Nurhadi, Yugo Hadi Saputra, Dasuki, Tasman, Supali Kasim, Saptaguna, Nurocman Sudibyo (Indramayu).
Ekspresi seni
Sesungguhnya aktualisasi melalui seni pertunjukan terlihat lebih hidup. Ungkapan sastra melalui wayang kulit ataupun wayang golek cepak/menak sangat berlimpah. Cerita Sastra dalam bentuk sejarah dan babad diungkap seni sandiwara. Sastra kontemporer dalam drama-tarling bermunculan, seperti dalam cerita Saida-Saeni, Baridin-Ratminah, Bayem Kakap, Gandrung Kapilayu,  dsb.
Lagu-lagu populer tarling juga menunjukkan berlimpahnya unsur sastra dalam geregap yang tak putus-putus. Pencipta sekaligus pelantun tembang tarling mengambil diksi-diksi dari idiom-idiom sastra daerah. Lahirlah lagu-lagu khas, seperti Gugur Cita-cita, Temon, Warung Pojok, dsb (Abdul Ajib), Saumpama-saumpami, Berag Tua, Melati Segagang,  dsb (Sunarto Marta Atmaja), Sepasang Manuk Dara, Cibulan, dsb (Dariyah), Kawin Paksa, Nambang Dawa, dsb (Udin Zhaen), Kapegot Tresna, Pihak Ketiga, dsb (Yoyo Suwaryo),  serta ribuan lagu lainnya.
Kemunculan sastra Cerbon mutakhir tampaknya ditandai oleh menguatnya rasa primordialisme Cerbon-Dermayon yang memang memiliki perbedaan dengan sastra daerah lain. Tak bisa dipungkiri, memang ada pengguna bahasa dan sastra Cirebon. Mereka dengan jelas membutuhkan media ungkap untuk  mewakili ekspresi kulturalnya.

Perda No.5/2003
Meski penggunaannya dalam masyarakat sudah bertahun-tahun, pemerintah melakukan pengakuan secara formal melalui Perda Jabar No. 5/2003 tentang bahasa, sastra, dan aksara daerah di Jawa Barat, yang menegaskan perbedaan linguistik dan kultural daerah Sunda, Cirebon, dan Melayu-Betawi. Secara spesifik, instansi semacam Disparbud dan Disdik (melalui Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian alias Balai Bahasa) Provinsi Jawa Barat pun sudah seharusnya berorientasi pada Perda tersebut.
Disparbud melalui program tahunan lomba cipta puisi ataupun lomba baca puisi Cirebon, lokakarya sastra Cirebon, hingga kongres Basa Cerbon setiap empat tahun berupaya mengaktualkan Perda tersebut. Begitu pula Balai Bahasa melalui program pelatihan guru bahasa daerah dan lomba bahasa dan sastra Cirebon.
Upaya lain adalah memfasilitasi penerbitkan buku ajar dan buku penunjang bahasa Cirebon di sekolah. Beberapa karya sastra Cirebon, seperti puisi, cerpen, cerita babad, wangsalan, parikan, naskah drama, naskah film, direncanakan akan diterbitkan. Balai Bahasa juga akan lebih elegan, jika program lainnya beradaptasi dengan Perda tersebut, seperti adanya anjangsana sastrawan Cirebon ke sekolah, bimbingan teknis (bintek) tarling, TOT (training of trainer) bahasa, sastra, dan seni daerah Cirebon.
Keprihatinan lembaga dunia yang menangani pendidikan dan kebudayaan, Unesco, akan ancaman kepunahan terhadap bahasa daerah, seharusnya menjadi perihatinan bersama. Dari sekitar 6.000 bahasa daerah di dunia, sudah sekitar 3.000 di antaranya mengalami kepunahan. Oleh karenanya karya sastra jawokan berupa kemat (guna-guna) jaran guyang seperti yang dilantunkan Abdul Ajib dengan meratap perih, akan lebih tepat jika syairnya begini:
Niat isun arep maca kemat jaran guyang / dudu ngemat-ngemat tangga / dudu ngemat wong liwat ning dalan / sing tek kemat pemrentah provinsi lan daerah / uga masyarakat Cerbon, Dermayu, lan sekitare sing duwe kabudayan sing jumblahe lelantakan / yen lagi turu gage nglilira / yen wis nglilir gage njagonga / yen wis njagong gage ngadega / mlayua wewara ning wong sekabeh sedalan-dalan / teka welas teka asih / basa lan sastra Cerbon butuh welas asih saking badan kula sedaya.

SUPALI KASIM, Wakil Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC)

*terjemahan: Saya berniat akan membaca guna-guna “jaran guyang” / bukan mengguna-guna tetangga / bukan mengguna-guna orang yang lewat di jalan / yang saya guna-gunai pemerintah provinsi dan daerah / juga masyarakat Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya yang memiliki kebudayaan yang jumlanya banyak / jika sedang tidur cepatlah bangun  / jika sudah bangun cepatlah duduk / jika sudah duduk cepatlah berdiri / berlarilah memberitahu kepada semua orang sepanjang jalan / datanglah rasa sayang datanglah rasa kasih / bahasa dan sastra Cirebon membutuhkan kasih-sayang dari kita semua.

’Kemat Jaran Guyang’ dari Sastra Cerbonan


 
Oleh SUPALI KASIM
Dimuat di Pikiran Rakyat/Khazanah 
Meski memiliki kekayaan sastra lisan dan sastra yang dipanggungkan, nyaris tidak diketemukan sastra Cirebon dalam bentuk penerbitan media massa maupun buku. Kalaupun ada, hanya dalam bentuk satu kolom kecil di sebuah koran atau buku yang dicetak  sederhana dan terbatas. Karya sastra Cerbonan ibaratnya hanya ditulis dan didokumentasikan di rumah penulisnya, tanpa mengetahui harus bagaimana untuk diterbitkan.

Peradaban dari Desa


-dimuat di Kompas Jabar
Oleh SUPALI KASIM

Sebuah desa terlahir karena adanya peradaban.  Adanya pertumbuhan dan perkembangan masyarakat, juga kemajuan kebudayaan. Konon cikal-bakal Kerajaan Cirebon berasal dari peradaban sebuah desa bernama Caruban, yang didirikan oleh Mbah Kuwu Sangkan alias Pengaren Cakrabuwana alias Pangeran Walangsungsang (keturunan Prabu Siliwangi, uwak Sunan Gunungjati) pada tahun 1471 ???.

Di Pesisir Indramayu Badai (Tak) Pasti Berlalu*



 
Oleh SUPALI KASIM**





Pergulatan untuk mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup dalam komunitas pesisir di Kabupaten Indramayu berlangsung cukup keras. Ombak, gelombang, angin, dan badai tak hanya terjadi di lautan sebagai penghambat  laju nelayan mencari nafkah. Di daratan, pergulatan tampak lebih seru dengan mengetengahkan tema persoalan lebih kompleks, dari masalah sosial, budaya, ekonomi, hingga tarik-menarik politik praktis.

Hajatan dan Kesenian, Simbiosis Mutualistis?


Oleh SUPALI KASIM

Selama berpuluh-puluh tahun eksistensi berbagai jenis seni pertunjukan di tatar Cerbon-Dermayu sulit dilepaskan dari acara hajatan. Seperti simbiosis mutualistis, ada hubungan saling bergantung dan saling untung. Kesenian dihidupsuburkan karena banyaknya order acara hajatan, dan hajatan menjadi meriah, berkesan, dan bermakna karena kreasi kesenian.

statistik